Dear Diary,
Hampir setahun sudah aku tidak bersua. Kabar baiknya, aku telah menyelesaikan studiku. Hari wisudaku masih bulan depan. Juni tahun lalu aku masih mengusahakan beberapa conference dan program exchange yang gagal. Tapi, tidak kusangka pada akhirnya aku dapat kesempatan conference ke Thailand bersama profesorku dan ke Jepang di akhir tahun kemarin.
Perjalanan yang cukup panjang dan menyenangkan. Tapi, aku tidak pernah menyangka bahwa tersimpan memori yang tidak ingin kusimpan lebih lama lagi di baliknya. Akhir Oktober lalu, ada seseorang yang pernah hadir di 2023 lalu, hadir kembali. Setelah pada Desember 2023 aku menolaknya dengan halus, dan malam harinya ia langsung menghilang bagai ditelan bumi. Lalu, beberapa pekan setelahnya aku melihat ia telah bersama orang lain.
Mungkin akhir cerita ini sudah bisa kau tebak, ya, berakhir dengan pattern yang sama. Aku sudah tidak begitu yakin untuk membalas pesan-pesannya di bulan Oktober lalu. Namun, mamaku selalu mengingatkan untuk membalas pesan seseorang, sesakit apapun memori yang pernah ia tinggalkan. Sampai pada akhirnya aku mulai intens membalas pesan-pesannya di tanggal 8 November malam hari sebelum paginya aku berangkat ke Thailand. Selama sepekan di sana, ia selalu berusaha menghubungiku dan banyak panggilan tak terjawab darinya. Aku masih tidak hiraukan pesan-pesannya.
Berlanjut pada tanggal 23 November aku kembali ke Jogja, diantar oleh orang tua dari acara keluarga di Magetan ke stasiun Palur. Pada hari itu aku akan naik KRL dari Palur ke Lempuyangan. Hari itu juga aku kembali bertemu dengan seseorang ini setelah Desember 2023 berpisah di stasiun Tugu Yogyakarta, tanpa pernah menyangka bahwa itu adalah pertemuan dan percakapan terakhir kami.
Sore itu ia membawakan tiga tas batik, mungkin hadiah dari acara kerjasama dengan kampusnya yang pernah ia ceritakan sebelumnya. Lalu, kereta kami melaju menuju Lempuyangan. Hari itu hujan sangat deras. Hampir maghrib kereta kami tiba di Lempuyangan, ia pesan taksi online melalui aplikasinya dan langsung menandai alamat kos-ku.
Sesampai di kos, ia menunggu aku di depan garasi. Sedang aku bersiap diri dan menyiapkan oleh-oleh dari Thailand untuknya. Selanjutnya, kami makan malam di kedai pizza kecil langgananku di jalan Kaliurang bawah. Saat itu aku mulai sadar bahwa ia sama sekali tidak risau meninggalkan salat Maghrib. Namun, tetap aku tepis dan kami mulai berbincang banyak hal. Aku berusaha membuka diri dan berpikiran positif bahwa setelah dua tahun berlalu pasti ias telah berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik.
Keesokan harinya, ia menemuiku kembali di Jogja. Ia mengajakku berkeliling, makan ramen di kedai ramen langgananku, lalu menikmati sore di Kopi Merapi. Pada awalnya aku masih mengira ia hadir kembali sebagai seorang sahabat yang memang kami telah lama bersahabat sejak masa putih abu-abu. Namun, sore itu ia mengajakku membuat video tampak belakang sambil menikmati senja di puncak Merapi yang warnanya merah keemasan itu. Ia pun mengunggah video tersebut esok harinya dengan backsound "Aku Jeje - Lihat Kebunku".
Intensitas kami dalam saling kirim pesan semakin meningkat. Terlebih saat itu aku sedang mengusahakan untuk mendaftar sidang tesis, dan banyak dokumen yang harus aku siapkan. Saat itu ia menawarkan diri untuk membantu beberapa finalisasi dokumen, meski ia sedang tugas ke Padang, Sumatera Barat. Namun, karena aku cuku kuwalahan, akhirnya aku menerima tawarannya untuk membantuku.
Hari Minggu-nya, tepat sepekan setelah pertemuan awal kami, sepulang dari Padang, ia kembali mengunjungiku ke Jogja. Pagi itu aku sedang ambil video untuk persyaratan sidang. Sedang ia membawa motorku ke bengkel untuk service, karena setelah dibawa ke Merapi pada Senin sebelumnya, terasa ada beberapa bagian yang butuh diperbaiki. Siang harinya kami berencana akan ke suatu restoran yang biasanya menjadi tempat favoritku mengerjakan tesis. Namun ternyata, restoran tersebut sedang digunakan untuk pesta pernikahan. Kami pun memutuskan untuk pindah ke restoran lainnya. Siang itu aku sibuk mengedit video untuk persyaratan sidang, dan ia menemaniku.
Aku menyadari bahwa aku belum ada perasaan padanya, tapi intensinya terus menunjukkan bahwa ia semakin mendekatiku. Hingga pada hari Rabu, 3 Desember 2025, aku berangkat ke Jepang. Pagi harinya tepat sebelum aku keluar dari kamar kos, ia melakukan panggilan video dan mengucapkan salam hati-hati selama perjalanan. Selama kurang lebih delapan hari di Jepang, aku tidak begitu intens menjawab pesan-pesan dan panggilan videonya.
Hingga pada tanggal 10 Desember aku sampai kembali di Jogja, ia kembali menemuiku di Jogja pada tanggal 12 Desember. Sepulang kantor ia langsung menuju Jogja. Malam itu kami jalan di salah satu mall, ketika ia mendapati pengumuman bahwa ia belum lolos dalam pendaftaran calon dosen di kampusku. Sebelum ia cerita, aku mendapati sikapnya yang sedikit berubah dan kaku. Hingga akhirnya aku terus memaksa menanyakan padanya, dan ternyata ia menunjukkan layar ponselnya bahwa ia belum lolos. Aku arahkan ia untuk duduk di depan store di mana aku membeli make up. Juga aku arahkan ia untuk menghubungi ibunya terlebih dahulu untuk menyampaikan kabar. Setelah ia merasa cukup kuat, akhirnya kami jalan kembali dan ia mengantarkanku pulang. Malam itu ia bermalam di kos temannya di area kota, sehingga ia membawa motorku sementara.
Keesokan paginya, hari Sabtu, kami berkeliling ke arah Kaliurang. Kami trekking ringan di Plunyon Kalikuning, lalu menikmati pagi menuju siang di Nawang Jagad. Baru setelahnya kami turun untuk makan chicken nashville langgananku sejalan dengan perjalanan pulang. Sambil menunggu waktu keberangkatan keretanya balik ke Solo, kami pun menghabiskan waktu di Pasar Ngasem untuk mencari jajanan yang ia inginkan. Namun, siang itu telah banyak kedai yang tutup dan habis dagangannya.
Pada hari Senin, 15 Desember, hari di mana aku sidang tesis, ia datang kembali ke Jogja. Aku tidak menyangka, ia menuliskan "Mi Lieverd" di kartu ucapan buket yang ia bawakan untukku. Aku tahu pasti arti kata yang dituliskan dalam bahasa Belanda itu. Malam harinya, ketika pergi bertiga bersama ayah dan mama. Ayahku cukup menegaskan aku untuk tidak memberikan harapan untuknya, apabila aku tidak benar-benar memiliki perasaan padanya. Aku memikirkannya semalaman hingga hari berikutnya ketika orang tuaku kembali pulang.
Sesampai di kos, siang itu aku memikirkan dan menanyakan hatiku berulang kali. Jujur aku cukup nyaman dengan kehadirannya, dengan caranya memperlakukanku. Meskipun terkadang ada saat di mana ia menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar yakin padaku, di mana cara dia yang tidak benar-benar menyampaikan perasaannya. Namun, lebih banyak kode yang ia berikan secara abu-abu. Pada akhirnya, sore itu aku memutuskan untuk mengakhiri segalanya sebelum hubungan ini berjalan jauh lebih dalam. Aku sangat berhati-hati dalam merangkai setiap katanya, agar tidak menyakiti perasaannya, terlebih ia baru saja mendapati pengumuman penolakan. Aku tidak ingin ia trauma dengan kota Jogja, dengan kampusku, dan segalanya tentang kota ini.
Sore itu, ia tidak menerima permintaanku untuk mengakhiri keadaan abu-abu ini. Hingga ia memutuskan untuk menemuiku kembali sepulang kantor dan langsung menuju Jogja malam itu juga. Kami berbincang panjang dan aku juga menyampaikan ketidakyakinanku padanya, terlebih setelah Desember 2023 aku tidak menyangka itu menjadi pertemuan terakhir kami dan beberapa pekan setelahnya ia langsung bersama orang lain. Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak benar-benar menginginkanku. Aku ingin menjalin hubungan dengan seseorang yang benar-benar berniat untuk menjadi pendamping hidupku kelak. Namun, pada malam itu seakan ia meyakinkan aku bahwa ia sungguh-sungguh denganku. Ia meyakinkanku bahwa ia memiliki niat serius setelah dua tahun ia belajar dari hubungan sebelumnya. Dan sekali lagi bodohnya aku kembali memberikan ia kesempatan terakhir. Selanjutnya pasti kau tahu, apa yang akan terjadi...
Hari-hari ia semakin berkirim pesan dan panggilan video setiap hari. Hingga pada tanggal 20 Desember, ia kembali mengunjungiku ke Jogja dan tiba-tiba membawakanku buket bunga dengan warna favoritku. Setelahnya ia mengajak aku jalan ke mall yang sebelumnya kami kunjungi di tanggal 12 Desember. Ia memaksaku untuk memilih hadiah sidang darinya, namun aku tetap bersikeras untuk menolak permintaannya. Selama ini, aku sangat menjaga diri untuk tidak merepotkan orang lain. Namun pada akhirnya, ketika ia sedang belanja di salah satu store, ia memaksaku untuk memilih satu hadiah. Aku tidak kunjung memilih, hingga ia sendiri yang inisiatif memilihkan jaket olahraga untukku. Aku pun akhirnya menerima niat baiknya untuk menunjukkan perasaannya padaku.
Pada tanggal 23 Desember tiba saatnya untuk pulang kampung. Ia membuatkanku proposal untuk aku mau diajak jalan ke Solo sebelum naik kereta bersama pulang ke kota kami. Aku pun mengiyakannya, karena ia telah memfasilitasi keretaku dari Jogja ke Solo tanpa naik KRL karena cukup susah untukku yang membawa koper. Kami pun berkeliling kota Solo, dan menikmati semangkuk nasi hainan dan daging shortplate langgananku.
Berlanjut pada tanggal 5 Januari 2026 ketika aku kembali ke Jogja. Pada malam harinya, ia kembali menemuiku ke Jogja. Aku merasakan ada hal yang berbeda dari dirinya. Sudah tidak ada lagi sparks yang biasanya selalu ia tunjukkan padaku. Ternyata di malam itu ia bercerita bahwa ibunya telah mengetahui kedekatannya denganku. Namun, ia menyampaikan bahwa ibunya mengingatkannya untuk tidak begitu berharap padaku. Di mana setelah ini aku masih akan lanjut studi di luar benua dan cukup jauh pastinya. Beberapa hari setelahnya ia pun menunjukkan sikap yang berbeda dan mulai dingin. Hingga pada akhirnya hari Kamis, 8 Januari, ia menyampaikan melalui panggilan video bahwa ia semakin tidak yakin dengan hubungan ini, namun ia masih ingin mencobanya. Aku sudah ingatkan ia saat itu untuk sudah cukup lebih baik mengakhiri hubungan ini sebelum berjalan jauh makin dalam, namun ia tetap bersikeras ingin menjalaninya bersamaku.
Pada tanggal 12 Januari, ia pindah dari kos lamanya ke rumah yang baru saja ia kontrak untuk setahun ke depan. Aku teringat ia pernah menyampaikan kalau ia memiliki perasaan yang sensitif terkait hal-hal ghaib. Terlebih ketika ia pindah ke tempat baru dan selalu pada malamnya ia pasti ditemui oleh makhluk-makhluk tak kasat mata. Sehingga pada hari itu aku juga ingatkan ia untuk melakukan tasyakuran kecil dan ia pun tidak menemui gangguan apapun selama pindah di rumah tersebut.
Akhir pekannya di tanggal 17 Januari, ia kembali mengunjungiku bersama sepupunya. Aku berkenalan dan berbincang dengan sepupunya yang cenderung introver. Siang itu aku menjemputnya di stasiun Lempuyangan. Aku sengaja menggodanya, menyampaikan bahwa aku akan telat sampai stasiun. Aku melihat responnya kurang menerima kalau aku telat menjemputnya, kenapa tidak berangkat lebih awal, keluhnya. Padahal aku sebenarnya sudah sampai di stasiun, lalu aku menunggunya sampai mereka keluar dari gerbang KRL. Aku melihat ekspresinya yang sedikit kesal dan menggerutu padaku agar tidak mengulangi hal seperti ini. Meski dalam hatiku, aku cukup kaget akan responnya yang kurang baik. Sedangkan, aku di keluargaku, terlebih mamaku, seringkali beliau memberikan kejutan ke ayah, aku, ataupun saudara-saudaranya. Namun, kami juga tidak pernah sekalipun kesal. Justru menjadi candaan yang hangat dan peduli.
Hari itu kami menikmati ramen di kedai langgananku, berlanjut mengunjungi pameran seni di jalan Kaliurang bawah, dan malamnya kami menghabiskan waktu di studio karaoke tidak jauh dari kos-ku. Aku merasakan kehangatan pada hari itu, aku bersyukur mengenal mereka dan kami memiliki hobi yang sama juga. Hingga pada pukul sembilan malam kami berpisah.
Pada hari Minggu dini hari, menuju Senin tanggal 19 Januari, ia melakukan panggilan video sambil menikmati santap sahurnya. Kami memang berencana akan puasa di hari Senin itu. Tiba-tiba ia mengirimkan tiket konser yang sangat aku inginkan, dan sudah ia belikan untuk kami menonton berdua. Aku merasa berutang padanya, karena aku tidak ingin merepotkannya dengan harga tiket yang cukup tinggi nominalnya bagiku. Aku sudah sampaikan sejak awal bahwa aku akan beli tiketnya sendiri, namun ia berinisiatif untuk membelikannya. Pada akhirnya, ia memberikan syarat untuk aku menemaninya mengunjungi pesta pernikahan di tanggal 24 dan menonton pertandingan bola di Jogja pada tanggal 25. Aku pun menyetujuinya.
Tiba pada tanggal 24 Januari, pagi itu perasaanku sangat gundah dan aku mendapati firasat yang tidak cukup baik untuk berangkat ke Solo. Akhirnya aku menyampaikan padanya bahwa aku belum bisa menemaninya mengunjungi pesta pernikahan, namun aku akan tetap mengunjunginya ke Solo untuk menghargai usahanya. Siang itu beruntung aku bisa naik KRL terakhir yang berjalan menuju Solo, sebelum jadwal setelahnya mundur tiga jam karena sedang ada angin besar di Jogja yang merobohkan tiang-tiang listrik. Ketika aku menceritakan padanya terkait hal ini di pekan depannya, aku mendapati responnya yang acuh tak acuh. Padahal aku sudah sangat mengusahakan menemuinya ke kotanya.
Siang itu ia menjemputku di stasiun Palur dan berhenti sejenak di rumahnya untuk menitipkan beberapa barang bawaanku. Kami pun lanjut mengunjungi pameran seni, lalu menikmati sate buntel dan tengkleng. Malam harinya kami menonton pertunjukan wayang orang di Sriwedari. Sebelum akhirnya ia mengantarkanku di kos teman perempuannya, untuk bermalam. Sejujurnya aku merasakan hal yang berbeda di hari itu. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba ketika aku sendirian dan melihat ponselnya muncul notifikasi direct message tiktok dari nama yang kuketahui adalah masa lalunya, yang memang ia pernah menyampaikan bahwa ia masih saling kontak. Aku sebenarnya tidak pernah mempermasalahkannya, akan tetapi, ketika aku melihat pesan mereka, aku mendapati ia masih mengirimkan emoticon hati pada masa lalunya. Aku merasa hal ini tidak seharusnya terjadi.
Sedari awal ia yang meyakinkanku betul-betul untuk mencoba menjalani hubungan ini bersama-sama. Tentu sebuah hubungan berjalan dengan memperhatikan
No comments:
Post a Comment