Saturday, May 29, 2021

Inner Child

Saturday, May 29, 2021 0 Comments

 1. Kegiatan favorit di masa kecil: bernyanyi, menari, lihat barbie, bersepeda, bikin hasta karya, nulis puisi. Alasan: karena aku suka aja, menyenangkan, bikin mood bahagia.

2. Sekarang aku ga pernah bersepeda ataupun bikin hasta karya karena memang ga ada waktu, ada hal yang lebih ku prioritaskan, dan terakhir mungkin karena malas. Aku merasa sekarang aku sudah punya kesibukan, sedangkan dulu aku masih punya banyak waktu. Aku pernah sekali dua kali bersepeda dengan adek sepupu yang masih SD, itu pun hanya menemaninya. Aku tak pernah membuat hasta karya lagi semenjak aku beranjak dewasa ini.

3. Bakatku waktu kecil mungkin lebih ke seni ya. Aku suka segala hal berkaitan dengan seni. Aku punya bakat di bidang kerajinan. Tapi, sejujurnya aku senang mencoba segala hal dan aku bisa segala hal, hanya saja tidak sampai aku mahir di suatu bidang. Aku juga senang memasak. Reaksi orang ketika aku SD masih awal-awal belajar memasak, meski hanya sekadar membuat mie instan ala aku sendiri, mereka tampak senang dan mempercayaiku bahwa mie buatanku paling enak. Senang rasanya waktu itu. Selain itu banyak yang suka juga dengan hasta karya yang aku buat. Suatu ketika aku ingat pernah ditanyai seseorang tentang apa cita-citaku, aku menjawab sekenanya, "Aku ingin jadi chef!". Ya, karena aku suka masak. Tapi, langsung orang tua dan yangtiku bertatapan tidak enak padaku, lalu marah saat sudah di rumah, mereka berkata, "Cita-cita itu yang tinggi, jangan memalukan kami, malu kalau orang 'batin' cita-citamu ga tinggi. Cita-cita itu ya jadi dokter, jadi ilmuwan, dan profesi yang bagus lainnya." Yaa, mungkin kurang lebihnya seperti itu, karena ucapan aslinya pakai bahasa jawa. Aku sempat syok menghadapi respon mereka dan yaa ga berani lagi. Akhirnya aku berusaha mencari-cari apa yang cocok buat aku; ilmuwan. Yap, akhirnya aku meyakinkan diriku buat jadi ilmuwan dan bakal kuliah di UI jurusan yang berbau IPA. Lucu sih hehehe.

4. Aku senang kehidupan masa kecilku karena aku bisa mengeksplor banyak hal. Hampir segala bidang aku bisa. Karena memang selalu diberi kesempatan untuk mencoba, hingga akhirnya aku menyukai banyak hal. Meski aku tak bisa hebat di salah satu hal.

5. Cita-citaku waktu kecil adalaah... ilmuwan.

6. Kegiatanku waktu kecil adalah bermain dan belajar. Seperti bersepeda, 'pasaran', bernyanyi, bermain acting, menyanyi, aku juga suka belajar. Aku rasa cukup punya kebebasan dalam memilih, tapi juga suatu kala ketika apa yang aku pilih menurut mama ayah itu salah, pasti aku dimarahin besar-besaran dan akhirnya aku makin kesini juga takut buat memutuskan pilihan sendiri. Yaa bisa jadi si mengikuti kemauan orang-orang di sekitarku.

7. Hobiku sekarang adalah menonton film, edit video, fotografi, videografi, desain, yaa masih berbau seni, cuma beda rupa aja. Aku senang ketika aku merasakan kebebasan menikmati hidupku, seperti berkeliling kota, traveling ke pantai ataupun gunung, aku sukaa kebebasan sambil menghirup udara segar.

8. Hal-hal yang tidak nyaman aku rasakan waktu kecil adalah ketika: di awal waktu aku merasa enjoy dan senang, lalu suatu ketika aku melakukan suatu kesalahan yang bahkan aku tidak mengerti bahwa itu suatu kesalahan, mama ayah marah padaku, dan seketika mood ku dari yang awalnya senang langsung berubah muram. Sampai saat ini, dewasa ini juga masih sering kurasakan. Aku gatau kenapa juga sampai saat ini aku masih menjadi orang yang aneh, yang punya cara sendiri, berbeda, dan menurut orang tuaku itu adalah suatu kesalahan. Aku menghadapinya waktu kecil dulu ya haya pasrah, aku nunduk, dan dalam hati berusaha: tolong lupakan semua ini, aku tidak nyaman berada pada perasaan bersalah. Aku memikirkan bahwa diriku benar-benar aneh, salah, bodoh, dll, aku berpikir bahwa orang lain mungkin memang ingin yang terbaik buat aku, tapi aku juga merasa: seharusnya bisa dong memberitahu aku pelan-pelan, tidak langsung menusuk ke hati, dan membuatku benar-benar merasa bersalah. Yang tahu tentang masalahku ya sudah pasti hanya diriku sendiri. Tiap kali aku mencoba ingin menjelaskan ke mama ayah, pasti mama selalu langsung tidak setuju dan tidak memberi aku waktu untuk menjelaskan, dan aku sendiri juga masih terlalu takut untuk melanjutkan dan speak up. Sedari kecil aku merasa tidak begitu nyaman untuk mempercayai seseorang, bahkan mama atau ayahku sendiri. Karena memang seringkali aku melakukan kesalahan pasti langsung kena marah. Padal aku ingin sekali mama ayah menjelaskannya pelan-pelan dengan bahasa yang halus dan tidak menusuk hati. Karena kalo udah sekali 'kejentok', pasti diriku selalu merasa: aku harus melupakan semua ini sekarang juga, aku tidak ingin ingat lagi, karena aku tidak suka berada di perasaan bersalah dan disalahkan dan diungkit-ungkit. Tapi memang begitu adanya.

Saturday, February 27, 2021

Ujung Jalan yang Tak Bertepi

Saturday, February 27, 2021 0 Comments

February, 27th 2021


Dear Diary,


Jadi hari ini aku pergi ke Tuban bersamanya. Tadi pukul 6.30 aku berangkat. Kami melewati jalur atas. Tujuan kami adalah Pantai Remen. Ketika sampai di daerah Merakurak kalau tidak salah, kami pun berhenti di Indomaret untuk sarapan. Itu sekitar pukul 8.00. Aku juga tak tahu mengapa perjalanan terasa sangat lama. Kami pun makan sekitar 30 menit atau mungkin lebih. Selanjutnya kami lanjut perjalanan lagi yang masih kurang belasan kilometer. Akhirnya kami pun tiba di Pantai Remen pada pukul 9.50. Aku juga tak tahu mengapa selama itu. Seumur hidup aku pergi bersama orang tuaku pasti selalu cepat di perjalanan. Padahal jarak rumah ke tujuan kami, Pantai Remen, hanya sekitar 50 km. Jujur, dia mengendarai motornya dengan cukup pelan menurutku. Dia tipikal orang yang slow, kalem, dan segala sesuatu hal dilakukan dengan pelan-pelan. Dalam keluarganya pun begitu. Mendengar dari cerita-ceritanya. Keluarganya juga begitu (aku tak tahu bagaimana menyebutnya, yang jelas sangat bertolak belakang dengan keluargaku yang sangat 'cekat-ceket', serba cepat dan dengan perhitungan yang pasti). Seringkali dia cerita, ketika berangkat ke suatu tempat, entah barang bawaan orang tuanya ada yang tertinggal, entah lupa belum mengisi e-toll, entah terlalu lama mempersiapkan diri dan akhirnya tidak tepat waktu. Juga tipikal cara mengemudi yang ada di keluarganya adalah pelan, menurut aku. Bayangkan saja, perjalanan dari Solo-Bojonegoro via toll mereka tempuh 4-5 jam plus berhenti untuk istirahat. Sedangkan tipikal mengemudi keluargaku saja, tol Solo-Ngawi bisa ditempuh 30 menit. Lalu, Ngawi-Bojonegoro hanya 1,5-2 jam, yang artinya, Solo-Bojonegoro atau sebaliknya bisa keluarga kami tempuh hanya dalam waktu 2-2,5 jam. Sangat bertolak belakang tentunya dengan keluarganya. Sedari tadi dalam perjalanan aku katakan, agak cepat gapapa. Kencengan. Ngebut. Yang penting tetep safety. But, it still can't. Dia bilang motornya tidak bisa diajak kencang. Tapi, menurutku juga memang dia tipikalnya kalem, tidak bisa 'wet wet wet', dan memang itu bawaan dari keluarganya. Juga tidak bisa satu kali tempuh. 


Aku dan dia banyak berhenti untuk istirahat, entah di indomaret, masjid, ataupun pom bensin, yang mana di keluargaku hal ini sangat sangat sangat jarang terjadi. Terlebih hanya perjalanan di bawah 120 km. Kalau tidak benar-benar kebelet, ndak bakal keluargaku berhenti selama perjalanan. Sedangkan tadi aku dan dia ke Tuban saja ada 5x berhenti untuk beristirahat, shalat, ataupun makan. Ya, aku tahu, dia kelelahan, dan tangannya sampai ngapal karena bawa motor hampir 12 jam. Sungguh aku sangat sedih melihat kondisinya. Tapi, di lain sisi aku juga bingung. It's not my family typical. Alhasil, aku kena marah dong sedari tadi aku tiba di rumah pukul 17.00 hingga saat ini pukul 21.00. Ini karena aku di Tuban memakan waktu hampir 12 jam. Note: HAMPIR 12 JAM. Aku anggap, yaudalah, santai aja. Tapi, kok ternyata semakin ke sini semakin dibahas dan nyamber ke hal-hal lainnya. Terus-terusan disidang. Padahal tujuan aku tadi juga cuma ke pantai aja, itu pun kami sangat menghemat waktu buat tidak berlama-lama. Aku sudah berusaha jujur sebisa mungkin ke kedua orang tuaku. Tapi, mereka masih mengelak seakan tidak percaya bahwa aku sedang jujur. Tidak percaya bahwa perjalanan bisa ditempuh selama itu. Tidak percaya. Tidak percaya. Dan tidak percaya.


Di satu sisi aku ingin menangis. Kenapa? Kenapa mereka tidak percaya? Kenapa kenapa kenapa. Banyak sekali tanda tanya dalam benakku. Tidak hanya masalah tidak percaya saja. Juga, diriku sendiri dalam keluargaku dilabeli sebagai pribadi yang sangat lelet dan lambat. Orang tuaku setiap hari selalu marah hanya karena aku tidak fast-thinking, memiliki pemikiran yang aneh dan berbeda, pribadi yang useless-able. Karena mama dan ayahku paling tidak suka dengan orang-orang yang lambat. Tetapi, selambat-lambatnya aku, sepertinya juga tidak akan selambat perjalanan hari ini. Orang tuaku selalu ingin aku untuk menjadi pribadi yang kuat, tidak lembek, dan cepat. Dan ketika aku mendapatkan calon, seseorang yang bagiku spesial ini, bahkan orang tuaku juga menyebut jika calonku ini pribadi yang lambat. Terlebih sering kali apabila aku dan dia ada janji, dia sangat sering tidak tepat waktu. Entah ada saja yang terjadi. Dan itu juga membuat orang tuaku sedikit percaya-tidak percaya, kesal, dan juga mengejekku tentunya. Keluargaku begitu disiplin. Tapi, bukan berarti keluarganya tidak disiplin yaa.. Gimana ya, aku bingung untuk mendeskripsikannya. Intinya ya itu tadi, mindset keluarga kita berbeda. Aku kok juga jadi stress sendiri kalo orang tua terus memarahiku karena perjalanan tadi tidak bisa on-time, efisien, cepat, dan planning-able. Karena dalam keluargaku, segala sesuatu hal harus direncanakan dengan matang, sematang-matangnya. Semua memiliki penakaran yang terperinci dan dengan sangat sesuai.


Mungkin saja entah siapapun kalian yang membaca ceritaku ini akan bingung menangkapnya. Tapi, begini adanya, aku pun juga bingung harus bagaimana mendeskripsikannya. Tapi, aku ingin menyampaikan apa yang membuatku gundah saat ini. Aku sangat sangat minta tolong, berikan saran dan masukan yang membangun bagiku untuk mengatasi kegundahan hati ini. Haruskah aku sampaikan ke dia, apabila tipikal keluarga kami berbeda? Atau haruskah aku bersabar dan yakin kalau kami bisa menyatukan dua keluarga ini dengan perlahan nantinya? Atau hal apa yang seharusnya aku lakukan? Tolong...


Terima kasih telah membaca kisahku hari ini. Sampaikan juga terima kasihku pada semesta, karena telah mempertemukanmu dengan kisahku ini dan memberikan saran serta masukan yang membangun.


Ferly Arvidia,

Thursday, November 26, 2020

a day to remember

Thursday, November 26, 2020 0 Comments

 Dear, You


Hei. It's been 15 weeks we didn't meet. But it feels like 15 years I didn't meet you. I know it seems so hyperbole, but I'm sure you understand what I'm feeling. I just didn't know why I have such a deep feeling on you.


15 weeks have passed, but all those memories are still very detailed in my mind. Your smile at me. Your laugh. Your kindness. Your eye's staring at me. And all of the things of you. It still circling in my head and the more I thought about it, the less I could bear it.


You know? I always count the days and feel so excited to welcome the new days. Because I thought that the sooner the days change the sooner we will meet. But sometimes, I feel like what I was to do? The days will always be the same. We both have new activities. Often we feel that something is no longer the same. But we both believe that this is just a feeling that arises while away.


Sometimes I feel so tired but I realized that it hurts me so deep. I feel so hopeless sometimes and realize that it hurts me too. I pretend to not feel everything and I realized that it also make me hurts. I just dunno what I should to do.


But the one you should know is what I do is always be the same: my prayer on you is always same, my feeling on you is always same, even in a long time. This feeling would never change until the rest of my life and the afterlife.


Your beloved,

Me




Sunday, May 19, 2019

Embun dari Selatan

Sunday, May 19, 2019 0 Comments
Dear Diary,

Soo long time I didn't tell you anything.
Tau ga sih? Dia yang lama hilang, kini telah kembali. Membawa hasil yang berlimpah ruah dari benih-benih yang dahulunya kami tanam bersama. Bahkan ia membawa perasaan lebih besar dan membawa banyak pula harapan. Aku hanya bisa berdoa semoga harapan tersebut berbuah menjadi kepastian yang berujung.

Aku suka. Keberaniannya. Kesungguhannya. Ketenangannya. Senyumannya yang sehangat mentari pagi. Tawanya. Semua tentang dia membuatku nyaman. Aku tak pernah merasa sedalam ini dengan seseorang. Setelah tiga tahun menghilang, dan kini kembali lagi merupakan suatu kemustahilan yang menjadi kenyataan.

Rasa ini begitu membuncah semakin membesar setiap harinya. Rasa rindu yang tertanam dalam benak masing-masing selalu menyeruak untuk segera dituruti. Ya, masih seperti dulu. Kami masih berjarak. Hubungan jarak jauh yang menurut banyak orang itu berat. Tak semua dapat bertahan karenanya. Akan tetapi, kami selalu berusaha untuk mempertahankan dan memupuknya agar rasa yang tercipta akan tumbuh semakin subur setiap harinya. Sesederhana kami menyatakan untuk saling berkomitmen. Aku pikir itu adalah kunci dari sebuah hubungan. Tak hanya hubungan jarak jauh.

Ah, aku tak mau membicarakannya terlalu dalam. Modern ini, banyak istilah kekinian mulai bermunculan. Salah satunya adalah bucin (budak cinta). Dengan terciptanya istilah tersebut, segala aktivitas dalam 'hubungan' disangkutpautkan dengan bucin. Padahal aku rasa tidak semuanya benar. Hal ini membuat beberapa orang takut untuk mengutarakan ceritanya hanya karena tak siap dikatakan bucin.

Kemana saja aku selama ini? Bodohnya aku menyia-nyiakan kenyamanan ini dalam beberapa tahun terakhir. Kini aku telah menyesal. Aku ingin mengubah segala mindset remajaku yang sangatlah penting bagi setiap orang untuk memiliki sosok 'cadangan'. Jika kita telah diberi satu yang sungguh-sungguh, mau cari yang bagaimana lagi? Tidakkah mudah bagi kita untuk selalu bersyukur? Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Dan ya, aku ingin bercerita tentang ia yang meminta pelukan pertamaku. Tentang ia yang selalu menggenggam tanganku ketika kami jalan. Dan ia yang selalu memberikan bahunya untukku bersandar ketika aku berada di titik terendah. Juga 'selalu-selalu' yang lain. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih telah kembali. Dan aku harap apa yang kamu rencanakan dapat terwujud. Mari kita sama-sama berjuang. I will always by your side. Dan aku harap dengan sangat, semoga setelah ini tak ada lagi jarak yang terbentang di antara kita. Aamiinn...

Mungkin aku hanya menuliskan ini saja malam ini. Besok aku ada jadwal UAS (Ujian Agak Serius) matkul Kewarganegaraan. Doakan aku berhasil, ya. Dan doakan IPK-ku dapat meningkat. Agar aku dapat membuktikan bahwa sebuah hubungan tidak akn mengganggu prestasi kita. Sekian. Selamat malam.

Selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan.

Ferly Arvidia,

Tuesday, June 19, 2018

Galau Tidak Diterima di PTN Favorit? Bukan Saatnya!

Tuesday, June 19, 2018 0 Comments
Dear Diary,
And all of my lovely readers.

Kau tahu? Saat ini jam dinding sedang menunjukkan pukul tiga dini hari. Dan aku belum bisa tidur sejak tadi malam. Aku rasa aku perlu obat tidur. Tapi sayang, stok obat tidur di kotak obat rupanya sudah habis. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan. Jadi, ya begini hasilnya. Kulihat laptop, lalu kuingin menulis.

Sudah tiga bulan aku tak berkeluh kesah tentang keseharianku. Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Alhamdulillah Allah memberikan jalan yang terbaik bagiku. Seperti doa yang selalu aku panjatkan setiap harinya. Meski nilai UN tak sesuai ekspektasi, tapi menurutku masa depan tidak ditentukan oleh nilai. Jadi, aku rasa itu tak begitu penting. Sah sah aja sih. Dan yang paling tidak kukira, akhirnya ku diterima di jurusan favorit aku. MANAJEMEN. Manajemen cuy, MANAJEMEN! Sempat kecewa sih awalnya, soalnya bukan kampus pilihan pertamaku. Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa kita sebagai manusia selalu menuntut yang lebih? Padahal jika kita sadari, Allah telah memberikan semua yang kita minta. Seharusnya kita bersyukur atas semua pemberiannya dan menerimanya dengan ikhlas. Semua ada jalannya.

Banyak teman mengeluh karena deg-deg-an menunggu hasil sbm dan akan mengikuti test ikatan dinas. Sebenarnya sama aja sih. Aku juga deg-deg-an mau ikut test STAN. Tenang, itu manusiawi. Tapi, ya jangan berlebihan kayak mau perang dunia aja. Toh, kalau itu emang perang, kita sudah berjuang di jalan yang benar. Sudah berusaha sekuat tenaga. Dan kalah atau menang itu hal biasa. Jika di tengah jalan ternyata Allah mencabut nyawa kita. Tetaplah bersyukur. Berarti itu jalan yang terbaik.

Bukan berarti karena aku sudah mendapat kampus, lalu aku bersikap santai seperti ini. Tentu tidak! Kita masih sama-sama berjuang. Untuk meraih cita-cita setinggi mungkin. Semua memiliki hak untuk menggapai bintangnya. Tapi ingat, masa depan kita sudah ada yang mengatur. Sebenarnya kita hanya perlu menjalaninya seperti air yang mengalir. Syukuri apa yang telah Tuhan berikan pada kita. Jangan suka mengeluh!

Aku jadi ingat, kata ustadz yang dulu diundang waktu doa bersama sebelum USBN di sekolahku. Berkata jika kepribadian seperti air mengalir itu kurang baik. Berarti plin-plan, tidak punya arah, tujuan, tidak punya pendirian, dsb. Menurutku, segala hal itu tentu ada negatif dan positifnya. Tinggal darimana kita melihat sudut pandangnya. Semua hanya perihal sudut pandang. Lalu, pilihan yang kedua adalah lilin, sang pelita dalam kegelapan. Lilin memang dapat menyinari kegelapan, tapi ketika masanya habis, lilin tersebut juga takkan berdaya. Dan yang terakhir, yang terbaik katanya, bunglon. Beliau memfilosofikan bunglon seperti kepribadian yang mudah beradaptasi. Tapi, jika dipikir-pikir, bunglon juga berarti kepribadian yang senang bersembunyi atau menyamar ketika mendapat suatu masalah. Karena ia terlalu takut untuk menghadapinya. Lantas, tetapkah kalian berpikir jika berkepribadian seperti bunglon-lah yang terbaik?

Terlalu banyak perumpamaan di dunia ini yang bisa disaru. Jangan men-judge di satu sisi. Mungkin kalian melihat dengan angle yang salah. Contohlah yang baik-baik. Salah satunya selalu ikhlas menerima semua pemberian Allah seperti air mengalir. Tetap mengalir sampai hilir hidupnya meski tiap kali menerjang bebatuan yang besar. Percayalah, semua ada jalannya.

Udah dulu deh, baterai laptopku udah sekarat. Terserah jika mau diterima atau tidak. Bukan bermaksud menggurui. Tapi, alangkah baiknya kita saling mengingatkan. Terima kasih! :)

Ferly Arvidia,

Monday, September 4, 2017

Sudah Baikkah Kurikulum di Indonesia?

Monday, September 04, 2017 0 Comments
"Jangan berucap jika kau tidak ditanya. Diam itu lebih baik." - anonymous

Kali ini, gue mau membahas tentang kurikulum yang ada di Indonesia. Sudah baikkah? Dengan adanya pergantian kurikulum setiap pergantian menteri? Tak berpikir bagaimana nasib pelajar yang berulang kali menjadi kelinci percobaan? Berdampak baik atau burukkah?

Oke, mari kita pikir lebih dalam. Awalnya gue itu sebal dengan adanya sesi pertanyaan pada setiap presentasi pelajaran di kelas yang dilakukan oleh setiap kelompok. Tentu saja teman-teman berebut ingin bertanya untuk mendapatkan nilai tambahan. Sedangkan itu membuat siswa yang tidak paham materi (sehingga tak tahu harus bertanya apa) dan siswa yang tidak ditunjuk untuk mengajukan pertanyaan. Pasti itu akan sangat sakit. Padahal mereka yang bertanya belum tentu paham apa yang ia tanyakan.
Zaman sekarang, khusunya pada kurikulum 2013 ini, siswa lebih sering melakukan presentasi (sedangkan guru tidak banyak menjelaskan, malah menuntut siswa agar mereka mengetahui dan memahami pelajaran tersebut meski sang guru belum menjelaskan). Lalu, siswa berebutan bertanya hanya bertujuan mendapatkan nilai tambahan. Maka timbullah pertanyaan, apakah itu akan bermanfaat?
Katanya lebih baik diam daripada kau tak tahu apa yang dibahas? Tapi, jika kau diam, tentu juga takkan mendapatkan nilai. Maka dengan begitu, penyampaian materi tidak akan merata. Siswa yang sudah pintar, akan semakin pintar dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Sedangkan siswa yang kurang pintar, akan semakin tak paham karena tak berani bertanya dan tak tahu apa yang harus ditanyakan. Gue merasa terdapat sedikit penindasan dalam hal tersebut.
Gue seringkali berpikir apa yang orang lain tidak pikirkan. Gue juga nggak tahu kenapa. Tapi, gue merasa aja jika hal ini tentu tidak baik.
Ketika KTSP sudah berjalan lama dan cukup baik, tiba-tiba muncul lagi kurikulum baru. Dan banyak buku paket baru yang harus dibeli. Padahal dahulu kita mendapat pinjaman dari dana bos untuk semua buku. Tapi sekarang hanya beberapa buku saja, karena beberapa buku lainnya tidak layak (dalam artian berbeda penjelasan karena perbedaan kurikulum). Setelah kurikulum 2013 pula, setiap tahunnya bahkan masih terbit buku pelajaran baru. Sehingga pembelajaran di sekolah menjadi tidak efektif.

Tuesday, August 22, 2017

Seribu Jalan Menuju Roma

Tuesday, August 22, 2017 0 Comments
Dear Diary and My Readers,
Okay, let me tell you about fail.
Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, Kawan! Percayalah, Tuhan pasti memberikan rencana yang terbaik untukmu kita semua. Kutipan ini mungkin sudah sering kalian dengar, tapi tenang. Biar kalian nggak bosan dan gundah gulana seperti itu, saya nggak akan mengulang kalimat itu berulang kali. Saya hanya ingin mengulasnya dan berbagi motivasi dengan kalian (bukan dengan maksud menggurui atau apa).
Misal saja, jika salah seorang dari kalian telah mengikuti berbagai macam tes untuk mendaftar hingga lima perguruan tinggi atau lebih, tetapi kalian masih saja gagal. Apa yang akan kalian lakukan? Mengulang masa SMA lagi? Tentu itu tidak mungkin. Lantas bagaimana?
Kalau untuk kawan yang masih SMA sih nggak papa, belajar dengan giat, berlatih setiap hari agar memperoleh hasil yang maksimal. Tetapi, jika sudah berbicara tentang takdir atau faktor 'kebejoan', bisa jadi meski sudah belajar sungguh-sungguh tetap saja tidak diterima. (Naudzubillah). Lalu, apakah kalian akan menjadi pengangguran seumur hidup? Tentu saja itu pilihan yang bodoh.
Ada seorang kawan saya di sekolah yang berkata dia akan belajar dengan sungguh-sungguh agar lolos seleksi. Tetapi, setelah saya tanya bagaimana jika tidak lolos? Dia bersikeras untuk mengikuti les (bimbingan belajar) agar dia bisa mengikuti tes PTN (Perguruan Tinggi Negeri) pada tahun berikutnya. Tapi, bagaimana jika mereka yang keadaannya tidak begitu dalam hal materi? Tentu takkan bisa mengikuti bimbel dengan mudahnya minta pada orang tua atau dengan mudahnya membeli buku. Lantas bagaimana?
Hidup ini keras. Kita sebagai manusia ditempa untuk menjalani semua masalah. Berusaha dan berdoa merupakan pasangan yang sudah tak dapat dipisahkan dan harus dilaksanakan. Dengam bekerja, mungkin mereka bisa sedikit membantu beban orang tuanya. Dengan bekerja, dia akan mendapat uang yang lumayan dapat digunakan membeli buku dan keperluan lainnya demi menghadapi ujian depannya. Tetapi, ada beberapa orang yang tidak setuju jika dengan bekerja anak tersebut bisa terjamin kesuksesannya. Memang tidak menjamin sih, tapi menurut saya dengan bekerja bisa menjadikannya mandiri dan lebih tahu betapa kerasnya dunia luar. Mereka ya g sudah kuliah, belum tentu pernah merasakan bagaimana kerasnya dunia, susahnya mencari uang, dan susahnya membanggakan orang tua. Kita sebagai manusia harus berkaca diri, jangan jadikan diri kita sebagai orang yang congkak. Kita ini insan, bukan seekor sapi -Kata Fourtwnty. Maka, dengan adanya kegagalan bukan berarti kita jatuh. Kita masih bisa bangkit. Roda pasti berputar. Jangan sekalipun mengeluh, jika tidak diterima di sekolah favorit. Bercerminlah! Lihatlah mereka yang justru membanting tulang, bekerja demi masa depannya. Seribu jalan menuju Roma menanti kita di depan sana. Jangan sekalipun kita lalai dan patah semangat! Orang besar tidak harus dilihat dari title-nya. Mereka yang sukses tidak harus berlatarbelakang pendidikan yang optimal. Kalian yang sungguh-sungguh pasti bisa mengalahkan mereka.
Cukup sekian cerita saya kali ini, karena tugas Teks Sejarah Bahasa Indonesia masih menanti. Mohon maaf jika ada salah kata, jika ada salah satu dari kalian yang tidak sependapat. Sekali lagi, saya mohon maaf sebesar-besarnya. (Udah kayak pidato aja)
Okelah, see ya soon!

Ferly Arvidia,

Thursday, December 8, 2016

STUPID Tingkat CUPID

Thursday, December 08, 2016 0 Comments
Dear Diary,
        It was sooo long timee, I didn't tell you about my life. Just because I have no time to tell you. I'm so confused now. I'm so stressed out! I can't think better.
        Jadi gini, ceritanya panjang banget. Dan gue bingung mau mulai dari mana. Ini adalah semester ketiga aku duduk di bangku SMA. Dan lo tahu? Nilai gue selama ini turun terus, dan gue bingung. Gue stress. Gue pusing. Gue takut kalo ga bisa keterima SNMPTN besok. Aarrggghhh!!
        Dan masalah terbesarnya adalah... Gue semester 2 lalu, udah janji sama mama kalo gue harus masuk ranking 10 besar di kelas di semester ketiga ini. Tapi, kelihatannya bener-bener ngga mungkin. Nilai gue bener-bener turun. Selama satu semester ini, banyak banget kegiatan yang gue ikutin. Ngga cuma kegiatan di sekolah aja, tapi juga kegiatan di luar sekolah. Mulai dari kegiatan OSIS, PMR, jurnalistik, pelatihan menulis, band, OSN, theater, dan gue juga punya kerja sampingan. Dari situlah, gue sampe ngga ada waktu di rumah. Rumah itu serasa kayak hotel bagi gue. Cuma tempat tidur waktu malem. Soalnya, pagi sampe sore full kegiatan di sekolah. Ntar maghrib pulang, habis itu lanjut lagi latihan band / les. Sampe bosen ya gitu terus, duh parah gue ngga pernah belajar! Ntar kalo Minggu, mulai pagi sampe jam 4 sore ada pelatihan menulis, terus langsung lanjut bimbingan OSN sampe maghrib. Dan kegiatan-kegiatan lainnya full di hari efektif. Aku ngga bisa bagi waktu. Senin sampe Minggu jadwal gue udah padat. Belajar aja jarang-jarang. Ntar nyampe rumah juga udah capek, mesti keseringan tidur langsung. Gara-gara itu juga kamar gue sampe kayak kapal pecah(?) Mama gue selalu marah lihat keadaan gue yang buruk kayak gini. Dan betapa bodohnya gue, biarin mama gue yang kalo sekali marah itu sakitnya langsung kambuh. Iya, gue emang bodoh!!!
        Dan sekarang gue ngga tau harus ngapain lagi. Banyak mapel yang remidi sebenernya. PKN. MTK. FISIKA. Gitu masih berharap masuk 10 besar di kelas. Ngga mungkin Ya Tuhan....!!!
Tapi kalo gue ngga masuk 10 besar, TAMAT riwayat gue!!! Soalnya terakhir kali mama gue marah masalah nilai, kalo sampe nilai gue turun atau ngga masuk 10 besar, dengan terpaksa gue bakal dipindahin sekolah, dibatasi fasilitas, dan dikeluarkan dari beberapa organisasi (tercinta) gue... OH NOO!!! Tentu aja gue ngga mau hal itu terjadi. Tapi mau gimana lagi?!
        Gue bingung ngomongnya sama mama, sama ayah. Gue takut mereka kecewa (padahal ya udah pasti mereka kecewa, gue bodoh soalnya!). Gue ngga tau caranya, gimana gue bilang ke mereka, gimana gue jelasin ke mereka, gimana gue bikin alasan, gimana gue minta maaf, gimana gue cerita ke mereka, gimana caranya agar mereka tidak marah (ah, tentu tidak bisa!). Aku bingung!! Terlalu banyak tanda tanya yang hadir dalam otakku saat ini. Gue terlalu bodoh emang. Iya bodoh. Stupid tingkat cupid!!
        Ayolah... Bantu gue, ajarin gue gimana caranya biar mama sama ayah ngga marah lagi. Dan gimana cara bikin mereka bangga???!! Dan masalah terbesarnya, ntar kalo mama marah besar, penyakitnya bisa kambuh. Dan gue ngga mau hal itu terjadi, Ya Allah..... :-'( :-'( :-'(
AAARRRGGHHHH!!!!!
.
.
.
        Padahal gue waktu shalat juga udah curhat banyak sama Allah. Tapi, emang hasilnya gini-gini aja. Tangled. ROUWET. Udah gue banyakin berdoa juga. Padahal ini hasil juga hasil-hasilku sendiri. Murni. Asli. Tanpa contekan. Tapi gue ngerasa GAGAL. Meski gue tau, hampir semua temen sekelas pada ngga jujur. Tapi liat mereka hasilnya agak bagus gitu kan ya SAKITTTTTTTTnya ngga tertolongg!! Entah mengapa,
        Kadang gue berpikir, kenapa gue dilahirkan? Kenapa gue harus ada di dunia ini? Kenapa gue harus jadi manusia? Kenapa gue harus hidup kalo ngga berguna kayak gini? Kenapa? Kenapaaa??!!!

Thursday, January 28, 2016

Perbedaan Cewek dan Cowok di 2016

Thursday, January 28, 2016 1 Comments
Hi Guys!
Gimana nih kabarnya? Kali ini saya bakal posting tentang hal yang terbaru, perbedaan cewek dan cowok di tahun 2016. Ya, semua berawal dari perdebatan saya dengan seseorang tentang perbedaan cewek dan cowok, dari sanalah saya berniat membagikan infonya pada kalian.
Sebelumnya, kalian pasti pernah mendengar ungkapan ini, “Men are from Mars, Women are from Venus.”





Yup, benar sekali. Cewek dan cowok merupakan makhluk yang sangat berbeda. Perbedaannya tak hanya dari segi fisik, tetapi bisa dilihat juga dari cara pemikirannya, sifatnya, kebiasaannya, dan hampir semua yang mereka miliki sangat bertolak belakang. Perbedaan mereka begitu aneh bin ajaib, konyol, dan benar adanya. Tetapi, karena perbedaan itulah mereka bisa bersatu untuk saling melengkapi. Cielah..
Daripada penasaran, yuk kita lihat apa saja sih perbedaannya? Oh ya, aku ingatkan terlebih dahulu. Jangan sampe senyum-senyum sendiri loh, ntar dikira orgil (orang gila) lagi. Ups!

1. Cewek yang Gak Peka atau Cowok yang Gak Peka?

Sering kali cowok bilang cewek gak peka, dan juga sering kali cewek bilang kalo cowok tuh gak peka. Tapi, mana nih yang benar? Cewek atau cowok yang gak peka. Mari kita uraikan.
Sebelum masuk ke kata "Peka", biasanya sering kita dengar kata "Kode". Mungkin kalian banyak berpikiran jika cewek itu sukanya ngode(?) Jujur saja lah, gak papa kok. Sebenarnya itu bukan kode, itu hanya suatu hal yang mungkin sengaja dilakukan cewek untuk mengetahui si cowok peka atau tidak. Jangan disamakan dengan Pramuka yang penuh dengan kode dan sandi yang harus kalian pecahkan hingga menemukan jawabannya. Ribet kan, ya?/ Lalu, jika kaum Adam berkata bahwa kaum Hawa tidak peka itu juga kurang tepat. Kenapa? Karena sebenarnya cewek itu peka, bahkan sangat peka. Mereka punya intuisi atau feeling yang kuat. Hanya saja, mereka tidak ingin mengungkapkannya secara langsung. Mereka akan selalu menunggu kaum Adam untuk mengungkapkannya duluan, karena mereka ingin mengetahui siapakah yang benar-benar memprioritaskannya. Lantas, siapakah yang sebenarnya "Gak Peka", cewek atau cowok? Kalian pasti bisa menyimpulkan sendiri. :)

2. Cewek, Jangan Suka Bohongin Diri Sendiri yak!


Perbedaan kedua, cewek lebih suka bohongin dirinya sendiri. Tetapi, kenapa cowok masih tega bohongin ceweknya? Kan ya sakit.
Cewek kalo udah sayang dan nyaman pasti bakal susah move on-nya, bahkan mereka acap kali mendustai dirinya sendiri demi menjaga perasaan si cowok. Tetapi, tak jarang cowok yang memermainkan perasaannya. Cewek strong kok, Guys! Tenang aja.

3. Persahabatan Cewek dan Cowok



Setelah perbedaan dalam hal perasaan, terdapat juga perbedaan dalam persahabatan mereka loh. Cewek lebih suka memanggil sahabatnya dengan panggilan layaknya "Beb, Say, Sis, atau yang lainnya". Mereka suka berbasa-basi dengan mengutarakan ini itu. Tapi nyatanya, tak semua persahabatan mereka berjalan mulus. Sering kali mereka saling menusuk dari belakang. Wah, sakit tuh! Tapi ingat, gak semuanya kok. Masih ada yang baik, jadi tenang...
Sedangkan persahabatan cowok, mereka biasa saja. Lebih suka memanggil sahabatnya dengan panggilan yang blak-blakan dan kasar. Tapi jangan ditanya, persahabatan mereka begitu indah. Mereka tak terlalu memikirkan masalah-masalah sepele. Bayangkan saja jika cewek yang kena masalah sepele, pasti udah jadi masalah besar tuh. Belum lagi perdebatannya, wawasan cewek sangat luas. So, mereka sering kali menang jika berdebat dengan cowok. Karena, cowok kurang pintar dalam mengutarakan pendapat dan isi pikirannya.

4. Cowok memiliki selera humor tinggi, benarkah?


Cowok memang memiliki selera humor yang tinggi, mereka suka menghina temannya sendiri hanya sebagai lelucon. Berbeda dengan cewek, mereka sangat sensitif dan lebih berhati-hati, mereka memilih untuk tidak menyinggung perasaan temannya. Tapi buruknya, cewek lebih suka membicarakan temannya di belakang. Luarnya manis, dalamnya busuk. Sering kali seperti itu, tapi ingat. Gak semuanya kok! ;)

5. TERSERAH



Cewek kalo ditanya pasti sering menjawab "Terserah.". Kenapa ya?
Sedangkan cowok, ditanyain apa pasti jawabnya langsung straight to the point. Beda jauh sama cewek.
Nah, lantas apa alasan mengapa cewek selalu mengucapkan "Terserah."? Alasannya, karena mereka tidak ingin merepotkan si penanya. Intinya bertujuan agar si penanya tidak perlu merogoh kocek terlalu besar, jadi cewek selalu menjawab terserah.
Misalnya jika ditanya "Eh, mau makan dimana nih?", jawabannya pasti "Terserah."
"Eh, mau makan apa nih?" "Terserah."
"Eh, mau kemana nih?" "Terserah"
Dan begitu seterusnya...


Jadi... Intinya bagi kaum Adam harus lebih "PEKA". Oh ya, satu lagi amanat yang dapat kita ambil dari sini adalah bagi cewek maupun cowok jangan pernah menyia-nyiakan "dia" yang sedang ada dalam hidupmu, karena suatu saat kau akan menyesal jika "dia" sudah meninggalkanmu selamanya. Jagalah dia yang menyayangimu, jangan disia-siakan. Karena mencari seseorang yang benar-benar sayang sama kalian di 2016 ini susah, vroh. Ingat itu! xD
Wkwk, maafkan jika artikel ini berpihak pada cewek. Karena saya melihat dari sudut pandang cewek. Dan, jika terdapat ketidakbenaran, kesalahan, dan semacamnya dalam penulisan saya mohon maaf sebesar-besarnya. Anggap saja sebagai lelucon
belaka. At the last of the words, I just wanna say thanks a lot.
Love yaa❤️
[Dikutip dari berbagai sumber]

Tuesday, November 17, 2015

Kehilangan

Tuesday, November 17, 2015 0 Comments
Dear diary,
Baru kali ini gue ngerasa bener-bener kehilangan. Kehilangan seseorang yang mungkin ga berarti bagi hidup gue, tapi gue rasa dia cukup berarti bagi gue hingga gue sangat ngerasa kehilangan dia. Sebenernya bebas aja sih dia keluar masuk kehidupan orang tanpa permisi, bahkan ucapan hello maupun goodbye. Dan gue, gue siapa? Gue ga berhak maksa dia untuk tinggal di kehidupanku. Tetapi, apakah dia sadar jika dia telah mencetak banyak kenangan dalam hidup gue. Dia udah membuat semua itu membekas dalam hidupku. Dan sekarang, dia pergi begitu saja?
Ah! Aku tak habis pikir. Mengapa ini semua terjadi padaku? Aku ingin meralat perkataanku tempo hari, bahwa ditinggal seseorang lalu melupakannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Aku tak seharusnya mengatakan itu, apa mungkin ini karma bagiku?
Aku sadar, semakin jauh seseorang itu pergi, semakin sering pula seseorang itu ada dalam pikiranku. Aku tak bisa, aku tak bisa melupakannya begitu saja. Aku tak bisa melewatkannya.
Jika memang dia bukan yang terbaik bagiku, let me forget him! Tapi, jika aku layak untuk mendapatkannya, let him come back to me. Please God..
Sometimes I feel so tired of waiting, but is there a chance for a person who never stop to waiting and dreaming?/
I hope everything I dream become true..
Love ya, xx

Monday, November 2, 2015

Putih Abu-abu, What is That?

Monday, November 02, 2015 0 Comments
SMA. Siapa yang ga tau masa SMA? Pasti semua orang di Indonesia tau, mungkin di antara kalian sudah pernah melewati masa ini, sedang menjalani, atau akan menjalani masa putih abu-abu ini. Masa peralihan menuju kedewasaan. Dimana kalian mulai mengenal teman yang benar-benar tulus juga teman yang cuma bisa ngomong di belakang. Masa dimana kalian bisa mengenal guru seakrab temen sendiri, dan mengemal guru sebagaimana ia adalah mimpi burukmu. Masa dimana kalian mengenal yang namanya gebetan / sepikan yang lo anggap sebagai penyemangat. Tapi gue sadar, sepikan cuma manis di bibir doang. Dan kalian harus hati-hati dengan sepikan macam ini. Jangan sampe elo down cuma gegara di PHP in! Meski doi menghilang, seiring berjalannya waktu Allah pasti bakal ngasih lo yang baru. Percaya deh. Masa putih abu-abu, masa dimana lo harus nyari guru kesana kemari untuk mendapatkan nilai, dan lo juga harus akrab sama guru tersebut kalo lo pengin dapet nilai plus tentunya. Sepik aja tuh guru, asyik-asyik aja kok ngecengin guru itu. Di masa ini juga, lo bakal ketemu sama manusia-manusia aneh bin ajaib yang berlagak bodoh, toidi, dan konyol. Mereka yang selalu bikin lo ketawa setiap hari di kala tugas-tugas bikin lo tertekan. So, jangan sampe pernah nyia-nyiain mereka. Dan di masa inilah, semua kerasnya hidup di mulai. Lo bakal menemukan hal-hal baru yangmenyenangkan atau justru nyakitin lo sendiri. Di masa ini, lo harus pandai-pandainya memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Jalani aja se-enjoy mungkin. Lo bisa nyalurin hobi sekedar untuk refreshing, tapi juga jangan melupakan tugas utama lo sebagai pelajar yang memiliki masa depan cerah. Tetap semangat belajar, dan semoga semua yang kita inginkan dapat terkabukan. Amiinn.. O:)
Mungkin ini sedikit ulasan tentang indahnya masa SMA. Sebagian orang gagal karena masa mudanya, so gunakan masa emas ini sebaik mungkin sampe elo berhasil dan ngga gagal.
SMA itu masa emas yang terlalu indah untuk dilewatkan.
Sekian, and love yaa~! xx
Ferly AA,

Wednesday, July 29, 2015

MOS Telah Berakhir !!

Wednesday, July 29, 2015 0 Comments
Dear readers,
Ciao!! Hari ini gw exited banget, hari ini hari terakhir Masa Orientasi Siswa. Yap, Putih Abu-abu t'lah datang menjemputku!! Selama tiga hari ini, banyak banget hal yang berkesan. Mulai dari papan nama yang disobek-sobek, dibentak, sampek nembak kakak senior kelas 12. Coba bayangkan?/ 
Menurutku sih, hari yang paling seru ya hari ini. Karena pada hari ini kakak-kakak senior bersikap cukup ramah pada kami siswa-siswa baru. Yah, meskipun hari ini juga bikin gw kesel. Setidaknya enjoy & fun lah!
Jadi ceritanya gini, tadi pagi waktu istirahat kan waktunya minta tanda tangan ke kakak senior, terutama yang pengurus inti. Waktu itu gw lihat kakak-kakak pengurus inti lagi nongkrong di salah satu sudut sekolah. Gw ngajakin temen-temen gw sekelas buat minta tanda tangan ke mereka. Tapi, temen-temen pada gak mau cuma karena malu + takut sama kakak senior. Ya, mau gimana lagi coba? Habis itu ada kakak senior kelas 11 lewat, "Kenapa gak minta tanda tangan langsung aja, Dek? Masa gak berani? Mereka gak gigit kok. Ah, ada Ferly. Ferly pasti berani, udah Dek sanaa.."
Akhirnya gw pun menghampiri kakak-kakak senior kelas 12 yang wajahnya cakep-cakep itu, parahnya gw di depan sendiri. Temen gw yang nemenin cuma dua anak di belakang lagi, mereka sungguh tega padaku. :"
Akhirnyaa.. Gw pun bersuara, "Permisi Kakak, kami mau minta tanda tangan."
"Tanda tangannya siapa, Dek?"
"Tanda tangannya Kakak Ketua Umum." Ya, itu tujuan utamanya. Minta tanda tangan sama kakak ketua. Gak sadar, ternyata di belakang gw udah banyak anak-anak kelas 10 berkumpul, hampir semuanya lah. Mereka cuma ikutan, lah gw di depan sendiri yang bicara sama kakak senior. Kan ya sakett, jlebb T-T
"Ketua umumnya namanya siapa, Dek?"
"Kak Asdfghjkl, Kak."
"Yang mana orangnya?"
"Itu Kak." 
"Eitss.. Enak banget cuma minta tanda tangan. Ada syaratnya, Dek!"
"Syaratnya apa, Kak?"
"Salah satu atau dua orang di antara kalian harus nembak salah satu kakak yang ada disini. Nanti kalian semua baru bisa dapet tanda tangan kami." Lalu, tiba-tiba kakak yang lain nambahin, "Jangan Kak, terlalu gampang. Gini aja, untuk 5 orang pertama yang berani nembak bisa dapet tanda tangan kita. Lengkap. Gimana, setuju gak?!"
"Tapi, Kak.."
"Itu konsekuensinya, Dek. Kalo kamu mau ya silakan. Enak lho Dek, dapet tanda tangan lengkap.. Ayo, udah. Waktunya mepet lho, cepetan! Siapa yang mau kamu tembak?"
"Okelah, s..ssaaya mau nembak kakak Qwertyuiop." Duh, ini terpaksa. Soalnya tugas surat cintanya gw tujukan sama kakak itu, alhasil ya gw milih kakak itu deh.-.
"Oke, gandeng kakaknya ke tengah sana Dek! Biar semuanya bisa lihat." Sungkan banget gw waktu udah kek gini, tapi ya mau gimana lagi. Demi tanda tangan. Berjuanglah sedikit, meskipun sebenernya gw malu minta ampun.. Akhinya, gw gandeng kakak itu deh ke tengah.
"Pemisi ya, Kak. Maaf.." gw ngomongnya sambil nunduk pasang muka melas, dan kakaknya cuma seyum aja. Dan eng ing eng... Udah di hadapan ratusan siswa, gw di tengah sama kakak itu jadi pusat perhatian, sampe difoto-foto juga sama kakak-kakak dokumentasi. Gw waktu itu cuma diem aja, gw gak tau apa yang harus gw lakuin. Wajah gw makin merah dan udah deg deg-an, gw kan masi polos soalnya :))

*soundtrack on*
This ain't a movie that I wanna see
A tragic story, starring you and me
Yell "cut", we're stuck inside this scene
This is heartache on the big screen
The clock is ticking, and I'm out of time
The camera's rolling, and I forgot my lines
My script is ripped and now I see
This is heartache on the big screen
(5 Seconds of Summer - Heartache On The Big Screen)

Akhirnya, terlintas dalam pikiran tentang kata-kata di surat yang gw tulis. Gw pun bicara sama kakak dengan kata-kata yang ada di surat. Bicara sambil ngeja + gagap-gagap dikit. Kliatan toidi banget gw waktu itu, geblek! Intinya ini yang gw katakan, "Saya tahu, saya hanya junior kelas 10 yang mungkin tak berarti di mata kakak. Tetapi, saya hanya ingin kakak tahu bahwa saya bukan jatuh cinta, saya jatuh hati. Saya tahu, saya tak pantas tuk memiliki kakak. Namun, bolehkah saya untuk selalu berada di dekat kakak?"
Dan kakaknya jawab, "Kalau memang itu yang terbaik bagimu, mengapa tidak?" Ucapannya halus, masih terngiang di pikiranku sampe sekarang, duh. Senyumannya juga tulus. Hanya saja satu hal yang bikin gw down. Yaitu kakak itu tingginya setiang listrik /ya maklum lah, anak paskib, Co. Sie KBB lagi. Gak kaget/ Tapi, masalahnya gw itu pendek, cuma 155 cm, dan gw cuma sepundaknya atau bahkan leih pendek dari itu. Jadi, ya nggak pantes banget. Serasa kakak sama adek jadinya. 
And then.. Gw dapet tanda tangan kakak-kakak senior pengurus inti, lengkap. Yeayy!! Perjuangan gak sia-sia.
Habis itu, kami kelas 10 menuju aula untuk penyuluhan kesehatan. Sebenarnya waktu itu jadwalnya adalah PBB, tapi pelatihnya berhalangan hadir. Alhasil, kami mengikuti penyuluhan. Setelah itu, kami mengikuti outbond bersama kakak-kakak Pramuka. Seru sih, ngangkat-ngangkat temen pake tongkat bambu gitu. Sama persis kek waktu outbond English Day sama JFF di Alun-alun April lalu. Setelah itu, kami makan siang dan shalat. Masih seperti biasa, makan siang dengan cara duduk tegap dan sopan, table manner gitu. Untungnya hari ini gak ada keamanan, setelah shalat langsung dilanjutkan apel penutupan, dan... PENSI!! Yeayy!!
Seneng banget gw, secara kan udah resmi jadi anak Putih Abu-abu. Terus Pensi, gw tampil nyanyi + baca puisi. Tapi, ya gitu. Amburadul..! Tapi, tak apalah. Meskipun, X-4 gak menang, yang penting kan happy! Hitz Four tetap yang terbaik! Dan, gak terasa besok udah pengumuman penjurusan. Bakal berpisah sama temen-temen Hitz Four nih, huhu :" Semoga aja gw masuk kelas MIA. Amiinn ya rabb..
Sebelum berakhir tulisan gw ini, yuk yel-yel dulu yaa!! Pake nada lagu "Love Me Like You Do"

Oh hitz four, is the best
We are one and the best four
Terkompak, terlucu, ter-perfect di SMA 2
Kita semua bersenang-senang. Senang..
Hitz four is the best, hitz for is the perfectly
Hitz four is the best, hitz for is the perfectly
Hitz four is the best, hitz for is the perfectly
Smada pasti jaya!

Sekian, dan terima kasih!!

Siapa kalian?!
Kami siswa Smada calon pemimpin bangsa!!

Friday, July 3, 2015

Happy 12th Birthday GagasMedia!

Friday, July 03, 2015 1 Comments
Okay, previously let me introduce myself. Hello, I'm Ferly Arvidia Anindita. A senior high school student at Bojonegoro, Jawa Timur. I'm just a little girl who loves reading, music, and writing so much! And I am participating GagasMedia 12th birthday. Happy 12th birthday GagasMedia!! #TerusBergegas




Dalam rangka memperingati ulang tahun GagasMedia yang ke-12, GagasMedia berbagi kado untuk para blogger, dengan cara menjawab dua belas pertanyaan dari GagasMedia. Beberapa menit lalu, aku menemukan status GagasMedia tentang "Kado Untuk Blogger", dan aku langsung tertarik untuk mengikutinya. Okay, wish me luck! 😇
And here are my answers!!

Questions :
  1.         Sebutkan 12 Judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!
  2.         Buku apa yang pernah membuat kamu menangis, kenapa?
  3.         Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasi?
  4.         Siapakah tokoh dalam buku yang ingin kamu pacari? Hayo, berikan alasan kenapa kamu cocok menjadi pasangannya.
  5.         Ceritakan ending novel yang berkesan dan tak kamu lupakan!
  6.         Buku pertama GagasMedia yang kamu baca dan kenapa kamu memilih itu?
  7.         Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik, kenapa?
  8.         Sekarang lihat rak bukumu.. cover buku apa yang kamu suka, kenapa?
  9.         Tema cerita apa yang kamu sukai, kenapa?
  10.         Siapa penulis yang ingin kamu temui, kalau sudah bertemu, kamu mau apa?
  11.         Lebih suka baca e-book atau buku cetak?
  12.         Sebutkan 12 kata untuk GagasMedia menurutmu!


Answers :
  1. 12 buku yang paling berkesan setelah aku baca, ini urutannya :
1.      Happily Ever After by Winna Efendi
2.      Let Go by Windhi Puspitadewi
3.      Refrain by Winna Efendi
4.      7 Misi Rahasia Sophie by Aditya Yudis
5.      8.. 9.. 10.. Udah Belom?! by Laurentia Dermawan
6.      Pura-Pura Cinta by Kezia Nadira
7.      Dance For Two by Tyas Effendi
8.      Cotton Candy Love by Priscila Stevanni
9.      Kynigos by Yoana Dianika
10.  Perahu Kertas by Dee
11.  In A Blue Moon by Ilana Tan
12.  Cinta Brontosaurus by Raditya Dika
2.      Buku yang pernah membuatku menangis adalah “7 Misi Rahasia Sophie”. Jujur aja sih, setiap novel yang pemerannya ada yang meninggal di ending-nya, pasti aku nangis. Tapi, novel “7 Misi Rahasia Sophie” bener-bener bikin aku nangis karena pemeran utamanya, Sophie meninggal, dan yang bikin aku sedih lagi ternyata semua misi rahasia Sophie itu untuk mengubah sifat-sifat Marko yang jelek. Sophie sangat peduli dengan sahabatnya itu, tapi tak disangka Sophie malah meninggal karena penyakit berbahaya yang menggerogotinya. Apalagi waktu novel ini difilm-kan, waktu nonton film-nya malah gak berhenti nangis. :”
3.      Quote yang paling aku ingat, dan sangat menginspirasi adalah quote dari novel Happily Ever After. Ini quote-nya :
Nggak semua cerita punya akhir yang bahagia. Begitu pula hidup. Bahkan, sering kali hidup punya kejutan tersendiri.” –Winna Efendi, Happily Ever After
Hidup adalah sebuah hak yang istimewa. Karenanya, kita perlu melakukan kewajiban kita untuk menjalaninya sebaik mungkin.”  –Winna Efendi, Happily Ever After
4.      Tokoh yang ingin aku pacari? Ehm, menurutku tokoh Marko di novel 7 Misi Rahasia Sophie. Meskipun Marko terlihat cuek, dan menyebalkan. Tapi, sebenarnya Marko sayang, dan peduli sama Sophie. Buktinya Marko mau nganterin, dan nurutin hampir semua permintaan Sophie. Marko sebenarnya juga menaruh hati pada Sophie, meskipun Sophie tak akan pernah tahu, cinta Marko ke Sophie sangat tulus. Selain itu, Marko adalah tipe cowok yang humoris. Yang jelas tokoh Marko adalah sosok yang bisa membuatku terpesona, dan terkagum-kagum. Hehee xD.
5.      Ending novel yang paling berkesan dan gak bakal aku lupakan adalah ending dari novel Refrain. Bertahun-tahun Niki berpisah dengan Nata, karena Nata harus melanjutkan sekolah musiknya di luar negeri. Hingga Niki sudah menjadi seorang guru di sekolah dasar. Tak disangka, mereka dipertemukan kembali dengan perasaan yang sama. Perasaan yang mereka kembangkan sejak mereka seumur jagung.
6.       Jujur aja sih, aku mulai baca novel itu baru tahun 2012-an. Jadi, belum banyak novel yang pernah kubaca. Nah, novel GagasMedia yang pertama kali aku baca itu novel Refrain dari Kak Winna. Kenapa memilih itu? Pertama kali waktu beli buku, pasti yang aku lihat adalah covernya. Begitu lihat cover Refrain yang gambarnya amplop biru gitu udah tertarik. Karena covernya simple banget, dan aku suka simple. Kedua, aku baca sinopsisnya, dan aku juga langsung tertarik waktu baca sinopsisnya. Perfect banget, akhirnya langsung beli deh.
7.      Judul buku yang paling menarik dari semua buku yang aku beli adalah judul “Happily Ever After”. Kenapa? Karena “Happily Ever After” adalah kalimat yang biasa diucapkan di akhir dongeng-dongeng bahasa inggris, berhubung aku pecinta dongeng akhirnya ya langsung tertarik gitu. Waktu mau beli, juga sempat debat sama temen perkara judulnya yang inilah yang itulah. Yang katanya mirip judul lagu juga, entahlah.
8.      Cover yang paling menarik, menurutku cover novel “Happily Ever After”. Lagi-lagi novel ini, kenapa? Ya, karena aku rasa semua novel karangan Kak Winna Efendi itu perfect banget. Cover dari novel “Happily Ever After” itu simple banget, dan bikin orang yang lihat itu penasaran. Menurutku, cover novel yang bagus itu yang ada ilustrasi bergambarnya.
9.      Tema yang paling aku suka itu adalah literature, jadi cerita yang mungkin terjadi pada kehidupan nyata, dan dibumbui dengan sedikit percintaan, sahabat, atau lainnya. Cerita seperti itu bisa membawa kita untuk membayangkan apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan sang tokoh. Lalu, kita juga bisa mendapat pengalaman baru dari kehidupan sang tokoh.
10.  Penulis yang paling ingin aku temui adalah Kak Winna Efendi sama Bang Raditya Dika. Aku terinspirasi dari kata-kata Kak Winna yang sangat menyentuh pembacanya, juga sangat mudah diserap. Seakan-akan tulisan Kak Winna bisa menghipnotis pembacanya. Dan, aku juga ingin belajar bagaimana cara menulis kalimat-kalimat seperti itu. Lalu, mengapa aku ingin bertemu Bang Radit? Karena aku suka banget sama kalimat-kalimatnya yang begitu humoris, obat galau banget pokoknya. Lalu, pengalaman-pengalaman lucunya yang dishare di twitter juga kocak banget, apalagi video-videonya yang di youtube. Yang jelas Bang Radit itu bikin perut jadi kaku karena kebanyakan ketawa, hehee.
11.  Kalau aku sih lebih ke buku cetak ya. Buku cetak itu lebih mudah dipahami isi tulisannya, karena bisa diberi garis kalau ada yang kurang paham. Benr sih kalau e-book itu menghemat kertas, tapi kalau kelamaan baca di depan layar itu bisa membuat mata jadi kering, merah, terus berair. Daripada merusak mata, mending baca di buku meskipun buku itu lebih berat dari gadget. But, e-book is good too.
12.  Semakin jaya, dan sukses selalu dalam menerbitkan karya-karya penulis profesional Indonesia!
Terima kasih untuk GagasMedia yang telah mengadakan event ini, and I hope I’ll be lucky for get the special gifts from GagasMedia. Amiinn.. Thanks a lot GagasMedia!! 😊

Wednesday, June 17, 2015

Waiting Pascal’s Law in Big Ben

Wednesday, June 17, 2015 0 Comments
            Udara pagi ini segar sekali, aku sangat menyukainya. Bunga-bunga bermekaran di setiap tempat, warna-warnanya yang mencolok menjadikan hidup ini lebih berwarna. Ya, saat ini adalah pertengahan musim semi di London, saat yang paling istimewa bagi turis asing yang berlibur di London. Tak kusangka, ternyata hari ini adalah hari ulang tahunku ke tujuh belas, tanggal 17 Maret 2015 tepatnya. Aku segera berganti pakaian dan buru-buru menuju garasi untuk mengambil sepedaku.
            “Vanessa, wait... Where do you go?” tiba-tiba daddy bertanya padaku.
“I just wanna go to Big Ben, Daddy. Just an hour, I promise!” jelasku seraya mencium tangannya.
“Okay, be careful my sweetie.” ucapnya sambil mencium pipiku dan mengacak rambutku yang terurai.
“Bubye Daddy! I love you!” teriakku dari kejauhan. Terdengar balasan setelahya, tapi aku tak tahu pasti apa yang dikatakannya, mungkin ia mengatakan “bye”, “see you”, atau semacamnya. Aku bergegas mengayuh sepeda pink kesayanganku itu menuju Big Ben –menara jam terbesar kedua setelah Makkah Clock Royal Tower. Tepatnya di daerah Westminster, London. Kira-kira berjarak sekitar dua kilometer dari rumah, jika mengendarai sepeda mungkin bisa menempuh tiga puluh menit. Perjalanan menuju Big Ben sangatlah indah ketika musim semi seperti ini, karena kita akan sangat mudah menjumpai bunga bermekaran berbagai jenis dan warnanya. Sepanjang sisi jalan disini dipenuhi bunga, pemandangan yang sungguh indah.
Aku tinggal di London sejak aku balita, daddy asli United Kingdom bisa dibilang british, sedangkan mommy asli Indonesia. Namun, aku lebih mirip dengan daddy. Matanya yang biru, hidungnya yang mancung, lesung pipinya yang dalam, juga alisnya yang tebal semua menurun padaku. Namun, ada satu hal yang tidak mirip. Yaitu rambut, rambut daddy yang blonde itu tidak mirip denganku. Rambutku seperti orang Indonesia, berwarna hitam sempurna. Jadi, terlihat jelas jika aku campuran British-Asian.
Tiga puluh menit pun berlalu, aku sudah sampai di menara jam yang tingginya sekitar 96 meter ini. Banyak orang berlalu lalang disana, hingga sulit untuk menemukan bangku kosong disana.
“Excuse me, can I sit here?” aku bertanya pada seorang perempuan yang usianya kira-kira tidak jauh dariku, dan berusaha mengusirnya secara halus. Oke, bisa dibilang modus.
“Ehm… Okay, no problem. You can sit here, I wanna go there. Bye!” ucapnya ramah dengan senyuman tipis mengembang di sudut wajahnya yang cantik.
“Thank you. Bye!” oke, sekarang aku bisa menempatinya sendirian hingga “Pascal’s Law” tiba. Ya, jika dia benar-benar kembali kesini tahun ini. Aku selalu teringat kejadian lima tahun lalu di tempat ini dan waktu yang sama. Saat itu, aku sedang duduk-duduk di bangku –yang sama dengan yang ku duduki saat ini- sambil menunggu orang tuaku menjemput, aku menikmati cotton candy yang telah kubeli. Tiba-tiba saja ada anak laki-laki seusiaku yang duduk di samping kananku, tanpa mengucap permisi sekalipun. Sungguh tidak sopan pikirku, aku hanya melongo melihat sikapnya yang aneh bin ajaib itu. Dan tak kusangka, beberapa menit kemudian dia mengajakku berbicara.
“H-hi... So-orry for my fault, sit here without ask you.” ucapnya gagap dan menyesal sambil mengulurkan tangannya ke arahku.
“No, problem. But, why you look like so tired? You’ve been jogging?” tanyaku penasaran sambil bersalaman dengannya.
“No! I had runaway from my Social Club. I didn’t like Social, I loved Science. But, it’s some kind of compulsion. I hate this!”
“I’m sorry for hear that.” ucapku turut bersedih mendengarnya.
“Don’t say sorry! You didn’t made any mistakes.” ucapnya dengan menatapku tajam. Tatapan matanya yang tajam dan dagunya yang tegas cukup jelas jika dia adalah orang yang serius. Kami terdiam beberapa saat hingga dia memulai percakapan lagi.
“Do you know Blaise Pascal?” dia bertanya dan aku hanya mengangguk. “He was a French mathematician, physicist, inventor, and writer. I really like his theory, or people called Pascal’s Law. He was a great philosopher. I learn this theory in my encyclopedia book.” jelasnya sambil menunjukkan bukunya yang super tebal. Tiba-tiba saja ada seseorang memanggilnya dari kejauhan.
“Ben! Let’s go home!” yang aku ingat hanya itu, Ben panggilannya. Tanpa perpisahan, perkenalan, kami pun berpisah. Aku masih menyimpan satu benda darinya, kompas. Ya, kompas itu terjatuh dari tas-nya. Sewaktu mengembalikan ternyata orangnya sudah hilang, lalu aku simpan saja sebagai kenangan.
Dari pertemuan yang singkat itu, aku penasaran dengannya. Hingga aku menunggunya setiap tahun disini. Namun, tak juga kami bertemu lagi. Tak terasa sudah setengah jam aku menunggu dia –Pascal’s Law aku menyebutnya- disini, hingga cotton candy-ku sudah habis, aku masih menyimpan kompas itu dan membawanya saat ini. Aku teringat pada janjiku bahwa aku harus segera pulang, lalu aku pulang tanpa bertemu dengannya.
“Vanessa, Mommy wants to introduce you with my friend’s child from Aussie.” teriak mommy dari dalam rumah, ketika aku masih di garasi.
“Okay, Mom! Wait…” aku segera berlari menuju ruang tamu, dan ternyata “Pascal’s Law” kembali. Ben.


Profil :
I’m Ferly Arvidia, just a little girl who loves writing, science, and music so much. Follow my Twitter and Instagram : @ferly_aa . Thanks a lot 
.