Tuesday, June 19, 2018

Galau Tidak Diterima di PTN Favorit? Bukan Saatnya!

Dear Diary,
And all of my lovely readers.

Kau tahu? Saat ini jam dinding sedang menunjukkan pukul tiga dini hari. Dan aku belum bisa tidur sejak tadi malam. Aku rasa aku perlu obat tidur. Tapi sayang, stok obat tidur di kotak obat rupanya sudah habis. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan. Jadi, ya begini hasilnya. Kulihat laptop, lalu kuingin menulis.

Sudah tiga bulan aku tak berkeluh kesah tentang keseharianku. Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Alhamdulillah Allah memberikan jalan yang terbaik bagiku. Seperti doa yang selalu aku panjatkan setiap harinya. Meski nilai UN tak sesuai ekspektasi, tapi menurutku masa depan tidak ditentukan oleh nilai. Jadi, aku rasa itu tak begitu penting. Sah sah aja sih. Dan yang paling tidak kukira, akhirnya ku diterima di jurusan favorit aku. MANAJEMEN. Manajemen cuy, MANAJEMEN! Sempat kecewa sih awalnya, soalnya bukan kampus pilihan pertamaku. Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa kita sebagai manusia selalu menuntut yang lebih? Padahal jika kita sadari, Allah telah memberikan semua yang kita minta. Seharusnya kita bersyukur atas semua pemberiannya dan menerimanya dengan ikhlas. Semua ada jalannya.

Banyak teman mengeluh karena deg-deg-an menunggu hasil sbm dan akan mengikuti test ikatan dinas. Sebenarnya sama aja sih. Aku juga deg-deg-an mau ikut test STAN. Tenang, itu manusiawi. Tapi, ya jangan berlebihan kayak mau perang dunia aja. Toh, kalau itu emang perang, kita sudah berjuang di jalan yang benar. Sudah berusaha sekuat tenaga. Dan kalah atau menang itu hal biasa. Jika di tengah jalan ternyata Allah mencabut nyawa kita. Tetaplah bersyukur. Berarti itu jalan yang terbaik.

Bukan berarti karena aku sudah mendapat kampus, lalu aku bersikap santai seperti ini. Tentu tidak! Kita masih sama-sama berjuang. Untuk meraih cita-cita setinggi mungkin. Semua memiliki hak untuk menggapai bintangnya. Tapi ingat, masa depan kita sudah ada yang mengatur. Sebenarnya kita hanya perlu menjalaninya seperti air yang mengalir. Syukuri apa yang telah Tuhan berikan pada kita. Jangan suka mengeluh!

Aku jadi ingat, kata ustadz yang dulu diundang waktu doa bersama sebelum USBN di sekolahku. Berkata jika kepribadian seperti air mengalir itu kurang baik. Berarti plin-plan, tidak punya arah, tujuan, tidak punya pendirian, dsb. Menurutku, segala hal itu tentu ada negatif dan positifnya. Tinggal darimana kita melihat sudut pandangnya. Semua hanya perihal sudut pandang. Lalu, pilihan yang kedua adalah lilin, sang pelita dalam kegelapan. Lilin memang dapat menyinari kegelapan, tapi ketika masanya habis, lilin tersebut juga takkan berdaya. Dan yang terakhir, yang terbaik katanya, bunglon. Beliau memfilosofikan bunglon seperti kepribadian yang mudah beradaptasi. Tapi, jika dipikir-pikir, bunglon juga berarti kepribadian yang senang bersembunyi atau menyamar ketika mendapat suatu masalah. Karena ia terlalu takut untuk menghadapinya. Lantas, tetapkah kalian berpikir jika berkepribadian seperti bunglon-lah yang terbaik?

Terlalu banyak perumpamaan di dunia ini yang bisa disaru. Jangan men-judge di satu sisi. Mungkin kalian melihat dengan angle yang salah. Contohlah yang baik-baik. Salah satunya selalu ikhlas menerima semua pemberian Allah seperti air mengalir. Tetap mengalir sampai hilir hidupnya meski tiap kali menerjang bebatuan yang besar. Percayalah, semua ada jalannya.

Udah dulu deh, baterai laptopku udah sekarat. Terserah jika mau diterima atau tidak. Bukan bermaksud menggurui. Tapi, alangkah baiknya kita saling mengingatkan. Terima kasih! :)

Ferly Arvidia,

No comments:

Post a Comment