Thursday, August 23, 2018

Tulus Vs. Modus

Thursday, August 23, 2018 0 Comments
Dear Diary,
And all of my lovely readers...

Lama sudah ku tak berjumpa dengan kalian. Dan yaa, ku punya banyak cerita. Jadi, ku udah mulai kuliah. Yap, udah jadi mahasiswi. Resmi! Seneng rasanya. Tapi, juga ada keselnya. Oke, kali ini aku ga pengen bahas ospek. Sudah lelah ku dengan ospek. Aku mau bahas tentang cowok. Sebenernya, aku sempet pengen nulis tentang 10 tipe cowok. Tapi, takut nyindir sih. Kalo emang kalian mau tahu, bisa comment. Nanti aku posting deh. Okay, back to the point!

Apa sih bedanya cowok modus sama yang beneran tulus? Ini nih problema utama para gadis. Kadang dalam satu waktu kita bisa dekat dengan beberapa cowok. Tetapi, seringkali kita bingung kan mana yang benar-benar tulus? Dan bodohnya lagi, kita sudah terlanjur serius dengan salah satu dari mereka. Tapi, yang kita pilih itu malah salah. Otomatis kita udah cuekin yang lain, eh ternyata yang lain itu malah yang benar-benar tulus. Nah lo? Udah deh, ga bakal kelar nih ngomongin cowok. So, gimana nih, Girls?

Sebenernya, aku belum bisa kasih solusi sih kali ini. Aku juga masih bingung. Apa daya seorang maba yang masih labil begini. Disini kita sharing aja. Soalnya aku juga masih bimbang, dan lagi kesel banget. Ketika temen-temen kost ku yang lain menceritakan kakak tingkat yang dikaguminya, aku malah ngga tertarik sama kakak tingkat. Soalnya waktu ospek ya gitu deh, wajahnya garang-garang. Jadi takut aja gitu. Nah, kesalahanku malah terlalu cepat mengambil keputusan. Hingga akhirnya apa yang kupilih itu salah, dan ternyata tidak tepat bagiku. Kesel ngga sih sama cowok yang udah baik banget, ngasih harapan, sholeh pula, tapi ternyata di akhir ngomong kalo udah punya pacar. Shit! Sakit banget gitu. Keliatannya aja sholeh. Aku termasuk orang yang cuek dan susah banget beradaptasi sama lingkungan baru, juga pendiam kalo ketemu orang baru. Tapi, kalo aku udah bener-bener yakin, aku bakal cerewet dan bakal cerita banyak hal. Aku juga bukan tipe orang yang mudah terbawa perasaan. Tapi, kenapa kali ini aku salah memilih? Dulu waktu SMA ku sempat salah pilih dengan yang tampangnya keren, nyatanya bullshit. Dan sekarang, ku kira benar-benar sholeh, dan tentunya meyakinkan. Tapi, nyatanya?

Mungkin disini ada kakak-kakak atau kalian yang bisa memberi solusi. Langsung comment aja. Sharing aja yaa.. Disini bukan untuk menyindir satu sama lain, tetapi membuat kita agar bisa lebih waspada aja. Jangan sampe salah pilih. Haruskah kita cuek? Atau biasa saja sesuai porsinya? Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca postingan tidak jelas ini. Sekian. Aku akan kembali dengan kesibukanku sebagai maba. Mau persiapan dulu, anak rantau mau pulang kampung.

Ferly Arvidia,

Tuesday, June 19, 2018

Galau Tidak Diterima di PTN Favorit? Bukan Saatnya!

Tuesday, June 19, 2018 0 Comments
Dear Diary,
And all of my lovely readers.

Kau tahu? Saat ini jam dinding sedang menunjukkan pukul tiga dini hari. Dan aku belum bisa tidur sejak tadi malam. Aku rasa aku perlu obat tidur. Tapi sayang, stok obat tidur di kotak obat rupanya sudah habis. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan. Jadi, ya begini hasilnya. Kulihat laptop, lalu kuingin menulis.

Sudah tiga bulan aku tak berkeluh kesah tentang keseharianku. Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Alhamdulillah Allah memberikan jalan yang terbaik bagiku. Seperti doa yang selalu aku panjatkan setiap harinya. Meski nilai UN tak sesuai ekspektasi, tapi menurutku masa depan tidak ditentukan oleh nilai. Jadi, aku rasa itu tak begitu penting. Sah sah aja sih. Dan yang paling tidak kukira, akhirnya ku diterima di jurusan favorit aku. MANAJEMEN. Manajemen cuy, MANAJEMEN! Sempat kecewa sih awalnya, soalnya bukan kampus pilihan pertamaku. Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa kita sebagai manusia selalu menuntut yang lebih? Padahal jika kita sadari, Allah telah memberikan semua yang kita minta. Seharusnya kita bersyukur atas semua pemberiannya dan menerimanya dengan ikhlas. Semua ada jalannya.

Banyak teman mengeluh karena deg-deg-an menunggu hasil sbm dan akan mengikuti test ikatan dinas. Sebenarnya sama aja sih. Aku juga deg-deg-an mau ikut test STAN. Tenang, itu manusiawi. Tapi, ya jangan berlebihan kayak mau perang dunia aja. Toh, kalau itu emang perang, kita sudah berjuang di jalan yang benar. Sudah berusaha sekuat tenaga. Dan kalah atau menang itu hal biasa. Jika di tengah jalan ternyata Allah mencabut nyawa kita. Tetaplah bersyukur. Berarti itu jalan yang terbaik.

Bukan berarti karena aku sudah mendapat kampus, lalu aku bersikap santai seperti ini. Tentu tidak! Kita masih sama-sama berjuang. Untuk meraih cita-cita setinggi mungkin. Semua memiliki hak untuk menggapai bintangnya. Tapi ingat, masa depan kita sudah ada yang mengatur. Sebenarnya kita hanya perlu menjalaninya seperti air yang mengalir. Syukuri apa yang telah Tuhan berikan pada kita. Jangan suka mengeluh!

Aku jadi ingat, kata ustadz yang dulu diundang waktu doa bersama sebelum USBN di sekolahku. Berkata jika kepribadian seperti air mengalir itu kurang baik. Berarti plin-plan, tidak punya arah, tujuan, tidak punya pendirian, dsb. Menurutku, segala hal itu tentu ada negatif dan positifnya. Tinggal darimana kita melihat sudut pandangnya. Semua hanya perihal sudut pandang. Lalu, pilihan yang kedua adalah lilin, sang pelita dalam kegelapan. Lilin memang dapat menyinari kegelapan, tapi ketika masanya habis, lilin tersebut juga takkan berdaya. Dan yang terakhir, yang terbaik katanya, bunglon. Beliau memfilosofikan bunglon seperti kepribadian yang mudah beradaptasi. Tapi, jika dipikir-pikir, bunglon juga berarti kepribadian yang senang bersembunyi atau menyamar ketika mendapat suatu masalah. Karena ia terlalu takut untuk menghadapinya. Lantas, tetapkah kalian berpikir jika berkepribadian seperti bunglon-lah yang terbaik?

Terlalu banyak perumpamaan di dunia ini yang bisa disaru. Jangan men-judge di satu sisi. Mungkin kalian melihat dengan angle yang salah. Contohlah yang baik-baik. Salah satunya selalu ikhlas menerima semua pemberian Allah seperti air mengalir. Tetap mengalir sampai hilir hidupnya meski tiap kali menerjang bebatuan yang besar. Percayalah, semua ada jalannya.

Udah dulu deh, baterai laptopku udah sekarat. Terserah jika mau diterima atau tidak. Bukan bermaksud menggurui. Tapi, alangkah baiknya kita saling mengingatkan. Terima kasih! :)

Ferly Arvidia,

Tuesday, March 20, 2018

Teman tapi Nyaman

Tuesday, March 20, 2018 0 Comments

Dear Diary,
Hi! It's been a long time I haven't tell you about my life.

Sudah lama aku tidak berkeluh kesah padamu. Rindu rasanya. Tenang, biar aku saja yang rindu. Berat. By the way, sudah hampir setengah tahun aku tidak menemuimu. Kau tahu? Bulan Desember penghujung 2017 lalu adalah bulan ter-freak sepanjang masa. Kenapa? Karena... Bulan Desember adalah bulan liburan. Itu artinya saatnya anak-anak rantau pulang kampung. Dan artinya timbullah kesempatan bagi mantan untuk bertemu kembali.

Mulai dari mantan yang sekarang di Solo. Tiba-tiba balik ke Bojonegoro dengan membawa sejuta oleh-oleh. Eh, kenangan maksudnya. Rela nungguin aku sampai konser Payung Teduh berakhir, dan aku sampai rumah dengan selamat. Lalu, mantan gebetan yang sekarang di Jakarta. Nggak sengaja ketemu waktu malam tahun baru, tapi tidak dipertemukan secara langsung. (Nah loh, gimana maksudnya? Entahlah, aku sendiri juga bingung). Terus ketemuan lagi. Makan bareng. Nonton bareng. Dan yang terakhir, ketemu mantan gebetan yang sekarang di Madura. Nggak sengaja ketemu juga waktu malam tahun baru di tempat yang sama pula. Kalau yang ini aku biasa aja. Soalnya lebih banyak sakitnya ketimbang rindunya, he he he. Tapi, ya sudahlah. Lalu, mereka kembali lagi pada aktivitasnya masing-masing, termasuk aku.

Maklum lah, sudah kelas 12 sedikit lelah banyak ujian. Sampai-sampai 2 bulan ini aku turun 8 kg loh! Sebuah prestasi yang mengagumkan bagi seorang Ferly, ha ha ha. Dan akhir-akhir ini juga aku ngerasa gimana gitu sama perasaanku sendiri. Antara galau, bimbang, bingung, sedih, ah entahlah. Oke, aku cerita aja deh awalnya biar kamu paham. Awalnya, kan aku sudah pernah cerita kalau aku jatuh hati sama orang misterius dari kelas sebelah (waktu kelas 10), dan aku ngerasa kalau perasaan itu cuma aku 'paksakan' selama ini. Aku nggak pernah lelah untuk berpura-pura bahwa aku ada perasaan padanya. Meski ditentang sungguh-sungguh sama orang tua karena dia nggak gentle dan nggak sopan.

Lalu, beberapa bulan lalu, ketika seorang teman perempuan sekelasku mengunggah story yang kurang lebih berisikan tentang sebuah kode (yang mengisyaratkan bahwa dia sedang jatuh cinta diam-diam). Lantas, aku mengomentarinya, "Ngode siapa nih? Wkwk."

"Ada sih yang dikode. Tapi, ga akan peka. Soalnya statusnya temen deket."

"Tenang, temen deket bakal jadi temen hidup kok."

"Lha masalahnya anaknya ga ngerti, Fer. Kalo aku punya perasaan diam-diam. Chat juga pas butuh aja."

"Makanya diskusi dulu biar tahu. Diskusi hati, wkwk."

"Gapapa, Fer. Diam-diam aja. Besok bakal tahu sendiri, wkwk."

"Anjayy, kalo gitu ya lama. Paling ga jangan kebawa sampe udah lulus, terus udah pisah. Nyesel ntar."

"Nah itu yang susah. Besok nek ada acara jujur-jujuran aku Insyaallah mau jujur, wkwk."

"Sip, wkwk."

Waduh kayak e aku keceplosan. Jaga rahasia dulu ya, Fer."

"Tenang, aku nggak ember, wkwk."

"Makasih wkwk."

"Okee. Aku soalnya ya udah janji sama diri sendiri. Sebelum lulus kalo bisa jujur sama perasaan. Jangan sampe nyesel."

"Wah kamu ya ada ini. Sekelas mesti."

"Nggak. Kamu kan yang sekelas mesti, wkwk."

"Iya, keceplosanku keliatan banget wkwk."

"Love in Bali jangan-jangan, wkwk."

"Nggak. Orang yang beda. Makanya aku takut kalo disebut baperan."

"Makanya ngomonge pas hari terakhir di sekolah. Paling ga waktu wisuda lah."

--"

NB : Oke, maaf sebelumnya yang merasa ceritanya aku tampilkan disini. Bukan bermaksud ember atau apa. Tapi, jujur. Aku tidak bermaksud apa-apa. Tidak ingin menyakiti. Aku harap jangan marah dan memutuskan tali persaudaraan kita sebagai umat muslim.

Dari situlah, aku merasa kalau aku sudah bohong sama perasaan sendiri. Padahal sudah jelas-jelas perasaan ini nyaman cuma sama satu orang yang kisahnya belum pernah kuceritakan padamu. Aku juga lebih sering bercerita tentangnya pada orang tuaku secara tidak sadar. Suatu ketika, mamaku yang bisa membaca hati orang lain pun menanggapi, "Jujur aja, kan aku suka sama ***, Ma," ejek mamaku dengan menirukan logat bicaraku.

"Eh, siapa yang suka. Kan aku cuma cerita, Ma."

"Ngefans kan tapi."

Hal itu sebenarnya juga sudah pernah terjadi waktu aku suka sama temen sekelasku waktu SMP. Mama selalu begitu. Bisa membaca hati orang lain. Aku tak bisa berbohong padanya. Tapi, aku rasa ini perasaan yang berbeda. Bukan sekadar suka yang biasa saja seperti dulu. Tapi, ada rasa nyaman yang timbul entah darimana. Bukan karena dia pintar musik. Bukan karena dia cool atau apa. Bukan juga karena dia siswa berprestasi. Kalau cuma itu ya sama aja dong kayak orang yang aku sukai ketika SMP. Rasa ini berbeda. Sudah kubilang. Maaf kalau aku berlebihan. Alay. Weird. Dan sebagainya. Aku tak tahu alasan apa untuk timbulnya perasaan yang satu ini. Mungkin memang karena aku menyukainya tanpa butuh 'karena'. Nyaman dengan sendirinya. Meski dia jail tiada terkira. Songongnya minta ampun. Jorok juga, wkwk. Suka ngeselin orang. Suka ngibulin, jadi butuh dua kali berpikir untuk mempercayainya. Dan masih banyak lagi. Tapi, meski di luar aku berusaha membencinya. Sampai-sampai dia pernah bilang, "Kenapa sih, Fer, kelihatannya kok benci banget sama aku?" Tapi, sebenarnya aku nyaman dengan semua itu. Kadang aku benci libur hanya karena nggak bisa ketemu dia. Dan ngerasa seneng banget ketika dapet jadwal piket kelas bersamaan dengan dia ketika liburan. Liburan akhir semester 4 dan semester 5. Dua kali aku mendapat jadwal yang sama dengannya. Sungguh senangnya. Mungkin bagimu biasa saja. Tapi, suka-suka aku dong. Kan aku yang nulis, he he he.

Kalau seumpama dia baca tulisan ini, aku cuma mau bilang kalau perasaan ini bukan timbul karena kebaikannya membantuku mencari chords setiap kali aku mau mengover lagu. Bukan juga ketika dia berusaha membuatkan nada untuk musikalisasi puisiku. Bukan tentang kelihaiannya setiap ia memetikkan senar gitar. Bukan juga tentang suaranya yang menenangkan jiwa. Aku suka caranya melucu, meski mungkin dia tidak bermaksud 'ngelawak'. Tapi, aku selalu suka caranya tertawa. Ketika ia menjailiku. Tentu saja aku sebal, karena selama ini aku gengsi. Ya, kuakui aku gengsi untuk meyakinkan bahwa aku hanya pura-pura membencimu. Tetapi, jauh di dalam hati, aku malah merasa kalau aku 'ada'. Meski kutahu, dia juga seringkali menjaili teman yang lain. Dan mungkin aku telah berlebihan karena terbawa perasaan dengannya. Tapi, rasa ini benar-benar ada. Utuh dan belum tercabik.

Jadi, selama ini aku merasa menjadi pengecut. Aku sempat takut kalau aku bakal menyukai orang yang sama dengan teman perempuanku yang tak sengaja cerita padaku tentang seseorang yang disukainya di kelas ini. Tapi, baru-baru ini aku mendengar bahwa teman perempuanku itu sudah menemukan'nya', dan ternyata lelaki yang berbeda dengan yang aku miliki rasa. Akhirnya, aku pun sedikit lega. Namun, seringkali rasa cemburu menguasai hati. Seperti ketika 'dia'-ku bertanya perihal perasaan pada teman-teman di kelas. Aku diam. Aku tak berani menyahutinya. Karena aku terlalu takut. Aku takut jika saja secara tak sengaja tiba-tiba aku menyampaikan maksud tersirat bahwa aku memendam perasaan padanya. Dan aku takut jika dia mengetahuinya, dia akan ilfeel lalu menjauh dariku. Jujur. Itu akan sangat sakit. Ketika dia bertanya perihal perasaan pada teman-teman, aku sangat takut. Aku takut jika dia memiliki seorang target lain yang tentu bukan aku. Aku memang senang berada di zona teman seperti ini. Tapi, aku juga tidak berhak cemburu karena aku bukan siapa-siapa. Tapi, mengapa aku sakit hati? Tidak. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Apalah daya, aku hanya seorang remahan rengginang di kaleng Oreo.

Haruskah aku menyatakan perasaan di hari kelulusan nanti? Sebelum berpisah selamanya tentunya. Tapi, aku takut jika nantinya akan seperti tokoh di film Thailand yang berjudul "A Little Thing We Called Love". Si cewek nyatain perasaan, tapi ternyata yang cowok sudah terlanjur jadian sama orang lain. Nyesek nggak sih? Terus kalau nggak ya bakal pura-pura nggak kenal, karena ternyata dia ngga punya perasaan yang sama. Ah, entahlah. Hidupku hanya sebatas ketakutan. Aku memang pengecut.

Meski banyak mantan gebetan yang keren-keren, ngasih kejutan tiada terkira, ada juga yang dinyanyiin sambil digitarin setiap malem kalo dia maen ke rumah, dll. Tapi, aku rasa nggak ada yang senyaman ini.

Maafkan aku ya, jika bikin kamu ilfeel. Aku mohon, jika kamu membaca ini, tolong jangan kesal dan malah menjauhiku. Justru itu akan sangat menyakitiku. Jika memang kamu tidak ada perasaan padaku dan terlanjur membaca curhatan ga penting ini, tolonglah untuk pura-pura tidak membaca. Meski aku tahu, yang "pura-pura" tidak selalu baik pada akhirnya. Dan jika memang punya perasaan yang sama, kuharap jujurlah padaku. (Maafkan daku terlalu berharap, karena kamu adalah satu banding seribu kemungkinan yang tak mungkin terjadi).

Sekian, terima kasih sudah berkenan mendengar ocehanku malam ini. Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Semoga tidur nyenyak malam ini.

Oh ya, aku akan mengutip puisi milik Kakek Sapardi Djoko Damono yang kau buatkan nada kala itu.


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Kita tak akan pernah bertemu
Aku dalam dirimu
Tiadakah pilihan, kecuali disitu?
Kau terpencil dalam diriku

Sejujurnya, ini rasa yang benar-benar terpendam terlalu lama padamu. Kuharap kelak kau kan mengerti.

Guten Nacht!

Ferly Arvidia,

Thursday, October 12, 2017

Terjebak dalam Kemungkinan?

Thursday, October 12, 2017 0 Comments
Dear diary and my lovely readers,
Kali ini aku akan membahas tentang 'kemungkinan'. Kemungkinan disini bisa juga disebut peluang. Kenapa? Karena kita hidup di dunia dilingkupi oleh banyak kemungkinan atau peluang yang dapat terjadi. Meski itu impossible sekalipun.
Misalnya, suatu saat kita bertemu dengan seseorang yang baru dikenal ketika naik kereta. Seseorang tersebut berbicara dengan asyik seakan sudah akrab sejak lama. Lalu, ia menawarkan makanan / minuman kepada kita. Lantas, apa kemungkinan yang dapat terjadi? Apakah orang tersebut benar-benar baik? Atau orang tersebut hanya melakukan modus untuk perbuatan kejinya?
Menurutku, kita hidup di dunia yang kejam ini, yang kita tak tahu apa kemungkinan terburuk yang dapat terjadi. Kita harus selalu waspada. Kita boleh berpikir positif. Tetapi, kita juga harus selalu waspada. Apakah kita bisa membaca orang yang sudah pandai bersandiwara? Susah! Kecuali jika memang kalian dilatih ilmu psikologi.
Kemungkinan terburuk yang dapat terjadi ketika bertemu seseorang di kereta tadi adalah kita bisa dihipnotis dari obrolan akrab. Atau makanan / minuman yang ditawarkan sudah diberi obat tidur, sehingga seseorang itu bisa merampok seluruh harta yang kita bawa. Pernakah kalian berpikir sejauh itu? Jika belum, biasakanlah!
Tetapi, perlu kita ketahui. Kemungkinan terburuk tidak hanya terjadi pada saat kita bertemu orang baru dikenal saja. Bisa jadi teman terdekat kita, dan bahkan alam semesta beserta isinya. Misalnya, seorang temanmu berkata jika ujian matematika dibatalkan. Lantas, kau dan teman sekelasmu berteriak girang. Dan akhirnya berhenti mempelajari materi yang akan diujikan. Padahal nyatanya, ketika gurumu datang, ujian jadi dilaksanakan. Lantas? Apakah kalian akan berpikir jika si anak tadi bercandanya keterlaluan atau malah berpikir jika anak tersebut membohongi temannya agar ia mendapat nilai bagus (karena antisipasi belajar), sedangkan teman-temannya mendapat nilai buruk (karena tidak melanjutkan belajar)?
Semua dapat terjadi. Hingga kadang kita merasa tak satupun orang di dunia ini dapat kita percaya. Maka, kita harus kembali pada Yang Maha Kuasa. Dan tetap mewaspadai kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.
Maafkan jika tulisan ini tak menarik, tapi aku berharap semoga bermanfaat. Sekian, dan terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. See you soon!

Ferly Arvidia,

Monday, September 4, 2017

Sudah Baikkah Kurikulum di Indonesia?

Monday, September 04, 2017 0 Comments
"Jangan berucap jika kau tidak ditanya. Diam itu lebih baik." - anonymous

Kali ini, gue mau membahas tentang kurikulum yang ada di Indonesia. Sudah baikkah? Dengan adanya pergantian kurikulum setiap pergantian menteri? Tak berpikir bagaimana nasib pelajar yang berulang kali menjadi kelinci percobaan? Berdampak baik atau burukkah?

Oke, mari kita pikir lebih dalam. Awalnya gue itu sebal dengan adanya sesi pertanyaan pada setiap presentasi pelajaran di kelas yang dilakukan oleh setiap kelompok. Tentu saja teman-teman berebut ingin bertanya untuk mendapatkan nilai tambahan. Sedangkan itu membuat siswa yang tidak paham materi (sehingga tak tahu harus bertanya apa) dan siswa yang tidak ditunjuk untuk mengajukan pertanyaan. Pasti itu akan sangat sakit. Padahal mereka yang bertanya belum tentu paham apa yang ia tanyakan.
Zaman sekarang, khusunya pada kurikulum 2013 ini, siswa lebih sering melakukan presentasi (sedangkan guru tidak banyak menjelaskan, malah menuntut siswa agar mereka mengetahui dan memahami pelajaran tersebut meski sang guru belum menjelaskan). Lalu, siswa berebutan bertanya hanya bertujuan mendapatkan nilai tambahan. Maka timbullah pertanyaan, apakah itu akan bermanfaat?
Katanya lebih baik diam daripada kau tak tahu apa yang dibahas? Tapi, jika kau diam, tentu juga takkan mendapatkan nilai. Maka dengan begitu, penyampaian materi tidak akan merata. Siswa yang sudah pintar, akan semakin pintar dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Sedangkan siswa yang kurang pintar, akan semakin tak paham karena tak berani bertanya dan tak tahu apa yang harus ditanyakan. Gue merasa terdapat sedikit penindasan dalam hal tersebut.
Gue seringkali berpikir apa yang orang lain tidak pikirkan. Gue juga nggak tahu kenapa. Tapi, gue merasa aja jika hal ini tentu tidak baik.
Ketika KTSP sudah berjalan lama dan cukup baik, tiba-tiba muncul lagi kurikulum baru. Dan banyak buku paket baru yang harus dibeli. Padahal dahulu kita mendapat pinjaman dari dana bos untuk semua buku. Tapi sekarang hanya beberapa buku saja, karena beberapa buku lainnya tidak layak (dalam artian berbeda penjelasan karena perbedaan kurikulum). Setelah kurikulum 2013 pula, setiap tahunnya bahkan masih terbit buku pelajaran baru. Sehingga pembelajaran di sekolah menjadi tidak efektif.

Tuesday, August 22, 2017

Seribu Jalan Menuju Roma

Tuesday, August 22, 2017 0 Comments
Dear Diary and My Readers,
Okay, let me tell you about fail.
Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, Kawan! Percayalah, Tuhan pasti memberikan rencana yang terbaik untukmu kita semua. Kutipan ini mungkin sudah sering kalian dengar, tapi tenang. Biar kalian nggak bosan dan gundah gulana seperti itu, saya nggak akan mengulang kalimat itu berulang kali. Saya hanya ingin mengulasnya dan berbagi motivasi dengan kalian (bukan dengan maksud menggurui atau apa).
Misal saja, jika salah seorang dari kalian telah mengikuti berbagai macam tes untuk mendaftar hingga lima perguruan tinggi atau lebih, tetapi kalian masih saja gagal. Apa yang akan kalian lakukan? Mengulang masa SMA lagi? Tentu itu tidak mungkin. Lantas bagaimana?
Kalau untuk kawan yang masih SMA sih nggak papa, belajar dengan giat, berlatih setiap hari agar memperoleh hasil yang maksimal. Tetapi, jika sudah berbicara tentang takdir atau faktor 'kebejoan', bisa jadi meski sudah belajar sungguh-sungguh tetap saja tidak diterima. (Naudzubillah). Lalu, apakah kalian akan menjadi pengangguran seumur hidup? Tentu saja itu pilihan yang bodoh.
Ada seorang kawan saya di sekolah yang berkata dia akan belajar dengan sungguh-sungguh agar lolos seleksi. Tetapi, setelah saya tanya bagaimana jika tidak lolos? Dia bersikeras untuk mengikuti les (bimbingan belajar) agar dia bisa mengikuti tes PTN (Perguruan Tinggi Negeri) pada tahun berikutnya. Tapi, bagaimana jika mereka yang keadaannya tidak begitu dalam hal materi? Tentu takkan bisa mengikuti bimbel dengan mudahnya minta pada orang tua atau dengan mudahnya membeli buku. Lantas bagaimana?
Hidup ini keras. Kita sebagai manusia ditempa untuk menjalani semua masalah. Berusaha dan berdoa merupakan pasangan yang sudah tak dapat dipisahkan dan harus dilaksanakan. Dengam bekerja, mungkin mereka bisa sedikit membantu beban orang tuanya. Dengan bekerja, dia akan mendapat uang yang lumayan dapat digunakan membeli buku dan keperluan lainnya demi menghadapi ujian depannya. Tetapi, ada beberapa orang yang tidak setuju jika dengan bekerja anak tersebut bisa terjamin kesuksesannya. Memang tidak menjamin sih, tapi menurut saya dengan bekerja bisa menjadikannya mandiri dan lebih tahu betapa kerasnya dunia luar. Mereka ya g sudah kuliah, belum tentu pernah merasakan bagaimana kerasnya dunia, susahnya mencari uang, dan susahnya membanggakan orang tua. Kita sebagai manusia harus berkaca diri, jangan jadikan diri kita sebagai orang yang congkak. Kita ini insan, bukan seekor sapi -Kata Fourtwnty. Maka, dengan adanya kegagalan bukan berarti kita jatuh. Kita masih bisa bangkit. Roda pasti berputar. Jangan sekalipun mengeluh, jika tidak diterima di sekolah favorit. Bercerminlah! Lihatlah mereka yang justru membanting tulang, bekerja demi masa depannya. Seribu jalan menuju Roma menanti kita di depan sana. Jangan sekalipun kita lalai dan patah semangat! Orang besar tidak harus dilihat dari title-nya. Mereka yang sukses tidak harus berlatarbelakang pendidikan yang optimal. Kalian yang sungguh-sungguh pasti bisa mengalahkan mereka.
Cukup sekian cerita saya kali ini, karena tugas Teks Sejarah Bahasa Indonesia masih menanti. Mohon maaf jika ada salah kata, jika ada salah satu dari kalian yang tidak sependapat. Sekali lagi, saya mohon maaf sebesar-besarnya. (Udah kayak pidato aja)
Okelah, see ya soon!

Ferly Arvidia,

Thursday, December 8, 2016

STUPID Tingkat CUPID

Thursday, December 08, 2016 0 Comments
Dear Diary,
        It was sooo long timee, I didn't tell you about my life. Just because I have no time to tell you. I'm so confused now. I'm so stressed out! I can't think better.
        Jadi gini, ceritanya panjang banget. Dan gue bingung mau mulai dari mana. Ini adalah semester ketiga aku duduk di bangku SMA. Dan lo tahu? Nilai gue selama ini turun terus, dan gue bingung. Gue stress. Gue pusing. Gue takut kalo ga bisa keterima SNMPTN besok. Aarrggghhh!!
        Dan masalah terbesarnya adalah... Gue semester 2 lalu, udah janji sama mama kalo gue harus masuk ranking 10 besar di kelas di semester ketiga ini. Tapi, kelihatannya bener-bener ngga mungkin. Nilai gue bener-bener turun. Selama satu semester ini, banyak banget kegiatan yang gue ikutin. Ngga cuma kegiatan di sekolah aja, tapi juga kegiatan di luar sekolah. Mulai dari kegiatan OSIS, PMR, jurnalistik, pelatihan menulis, band, OSN, theater, dan gue juga punya kerja sampingan. Dari situlah, gue sampe ngga ada waktu di rumah. Rumah itu serasa kayak hotel bagi gue. Cuma tempat tidur waktu malem. Soalnya, pagi sampe sore full kegiatan di sekolah. Ntar maghrib pulang, habis itu lanjut lagi latihan band / les. Sampe bosen ya gitu terus, duh parah gue ngga pernah belajar! Ntar kalo Minggu, mulai pagi sampe jam 4 sore ada pelatihan menulis, terus langsung lanjut bimbingan OSN sampe maghrib. Dan kegiatan-kegiatan lainnya full di hari efektif. Aku ngga bisa bagi waktu. Senin sampe Minggu jadwal gue udah padat. Belajar aja jarang-jarang. Ntar nyampe rumah juga udah capek, mesti keseringan tidur langsung. Gara-gara itu juga kamar gue sampe kayak kapal pecah(?) Mama gue selalu marah lihat keadaan gue yang buruk kayak gini. Dan betapa bodohnya gue, biarin mama gue yang kalo sekali marah itu sakitnya langsung kambuh. Iya, gue emang bodoh!!!
        Dan sekarang gue ngga tau harus ngapain lagi. Banyak mapel yang remidi sebenernya. PKN. MTK. FISIKA. Gitu masih berharap masuk 10 besar di kelas. Ngga mungkin Ya Tuhan....!!!
Tapi kalo gue ngga masuk 10 besar, TAMAT riwayat gue!!! Soalnya terakhir kali mama gue marah masalah nilai, kalo sampe nilai gue turun atau ngga masuk 10 besar, dengan terpaksa gue bakal dipindahin sekolah, dibatasi fasilitas, dan dikeluarkan dari beberapa organisasi (tercinta) gue... OH NOO!!! Tentu aja gue ngga mau hal itu terjadi. Tapi mau gimana lagi?!
        Gue bingung ngomongnya sama mama, sama ayah. Gue takut mereka kecewa (padahal ya udah pasti mereka kecewa, gue bodoh soalnya!). Gue ngga tau caranya, gimana gue bilang ke mereka, gimana gue jelasin ke mereka, gimana gue bikin alasan, gimana gue minta maaf, gimana gue cerita ke mereka, gimana caranya agar mereka tidak marah (ah, tentu tidak bisa!). Aku bingung!! Terlalu banyak tanda tanya yang hadir dalam otakku saat ini. Gue terlalu bodoh emang. Iya bodoh. Stupid tingkat cupid!!
        Ayolah... Bantu gue, ajarin gue gimana caranya biar mama sama ayah ngga marah lagi. Dan gimana cara bikin mereka bangga???!! Dan masalah terbesarnya, ntar kalo mama marah besar, penyakitnya bisa kambuh. Dan gue ngga mau hal itu terjadi, Ya Allah..... :-'( :-'( :-'(
AAARRRGGHHHH!!!!!
.
.
.
        Padahal gue waktu shalat juga udah curhat banyak sama Allah. Tapi, emang hasilnya gini-gini aja. Tangled. ROUWET. Udah gue banyakin berdoa juga. Padahal ini hasil juga hasil-hasilku sendiri. Murni. Asli. Tanpa contekan. Tapi gue ngerasa GAGAL. Meski gue tau, hampir semua temen sekelas pada ngga jujur. Tapi liat mereka hasilnya agak bagus gitu kan ya SAKITTTTTTTTnya ngga tertolongg!! Entah mengapa,
        Kadang gue berpikir, kenapa gue dilahirkan? Kenapa gue harus ada di dunia ini? Kenapa gue harus jadi manusia? Kenapa gue harus hidup kalo ngga berguna kayak gini? Kenapa? Kenapaaa??!!!

Friday, April 15, 2016

Harapan dalam Bayangan

Friday, April 15, 2016 0 Comments
Dear Diary,
Sudah cukup lama aku tak mencurahkan isi hati ini -yang kian membuncah setiap harinya- padamu. Aku merasa tak cukup kuat untuk memendam semuanya dalam waktu lama. Aku ingin bercerita tentang seseorang yang hadir secara tidak terduga di penghujung tahun 2015 lalu. Seseorang yang sungguh tak pernah kuduga sudah mengenalku dengan cukup baik. Aku tak pernah mengenalnya sebelumnya. Apalagi kenal, bertegur sapa dan melihatnya saja aku rasa belum pernah. Namun pernyataanya yang mungkin lebih cocok disebut argumen, ya argumennya tentang diriku membuatku penasaran akan sosoknya. Dengan santainya ia bertanya, "Kamu arsitek, ya?". Hampir semua kalimat yang pernah ia ucapkan masih tersimpan jelas dalam memoriku. Dengan pertanyaannya yang aneh seperti itu justru malah menimbulkan pertanyaan lagi dalam otakku. Mengapa ia berpikiran bahwa aku seorang arsitek? Padahal dalam percakapan sebelumnya, secara tidak sadar ia sudah mengetahui jelas jika aku masih duduk di bangku SMA yang sama sepertinya. Sangat mustahil jika seorang pelajar sekolah menengah atas sudah berprofesi sebagai arsitek. Lantas aku pun bertanya kembali, "Mengapa menyebutku sebagai arsitek?". Dan dengan mudahnya ia menjawab, "Karena kau memiliki hobi membuat design vector / grafik. Jadi, aku pikir kau seorang arsitek.". Kurang lebih begitulah jawabannya. Dalam hati aku tertawa setelah mengetahui alasannya bertanya seperti itu, tetapi pada sisi lain aku bingung. Haruskah aku senang jika ada seseorang yang diam-diam mengetahui hobimu, atau hal-hal kecil lainnya tentang diriku. Atau haruskah aku waspada bahwa ia adalah seorang penguntit atau semacamnya. Dan yang paling aku bingungkan adalah darimana ia mengetahui segalanya tentang diriku? Aku lelah untuk bertanya. Aku pun membiarkan semuanya berjalan seiring waktu.
Hal yang semakin konyol terjadi. Pada malam terakhir di tahun 2015 ia memberikanku pertanyaan itu. Pertanyaan yang tak tahu harus ku jawab apa. Kami belum saling mengenal, tetapi mengapa ia sudah memberikan pertanyaan yang sukar seperti itu? Dan aku pikir, terlalu cepat ia untuk bertanya seperti itu. Semua butuh waktu. Semua butuh proses. Namun, bukankah hal itu juga merupakan sebuah proses? Dan yang masih kuingat jelas dalam memoriku, keesokan harinya ia memberiku sketsa wajahku yang ia gambar sendiri. Meski tak cukup rapi, tapi aku sangat senang mendapatkannya. Seiring berjalannya waktu, hari-hari kami lewati bersama tanpa status yang jelas. Sungguh tak kuduga, aku mulai menyimpan rasa untuknya. Detik demi detik, hari demi hari rasa itu mulai membuncah tak karuan. Aku tak tahu, aku harus menyebutnya apa. Aku mencoba membantu semampuku jika ia memohon padaku untuk menolongnya. Dengan sabar dan ikhlas aku selalu membantunya dalam setiap kesulitan. Aku tak pernah bosan untuk melakukan itu semua. Tetapi tak lama kemudian aku mendengar kedekatannya dengan beberapa gadis di kelas tempat ia menimba ilmu. Aku benar-benar merasakan sakit yang tak bisa diuraikan dalam kata-kata. Rasa sakit itu semakin dalam ketika aku melihat kedekatannya dengan beberapa gadis tersebut. Tetapi aku sadar, aku tak mimiliki hak untuk sakit hati. Aku bukan siapa-siapa baginya. Mungkin aku juga tak berarti baginya. Mungkin aku hanyalah seorang pahlawan kesiangan yang menjadi pemeran figuran dalam skenario hidupnya. Di saat aku mulai putus asa, ia kembali memberikan harapan indah. Namun, apakah harapan itu hanyalah sebuah ilusi semata? Aku tak cukup mengerti. Ia merupakan seseorang yang sulit ditebak, dan seringkali membuatku penasaran.
Aku tidak pernah benar mengerti tentang dirinya. Ia adalah perpaduan dari kontradiksi yang tak berujung. Sikap dan ucapannya seringkali membuatku bingung. Begitu dekat, namun juga terasa jauh. Perlakuan yang membuatku luluh, dan kata yang selalu menunjukan rasa tak acuh. Aku tahu, aku tak dapat menuntut. Namun, hati selalu terasa gundah. Sebenarnya apa arti aku di kehidupannya? Apakah aku memiliki tempat khusus di dalam hatinya, atau hanya sebuah bonus kecil yang jikapun menghilang ia tidak akan mencarinya?
Pada hari ulang tahunnya lalu, dengan senang hati aku membuatkannya sebuah karya design vector 'WPAP' yang sedang trend beberapa tahun terakhir. Aku membuatnya dengan susah payah dan dengan kesabaran ekstra. Hingga akhirnya tercipta sebuah karya yang mungkin tak cukup bagus jika dibandingkan dengan karya-karya WPAP seniman vector graphics hebat di dunia. Tetapi, aku sangat berharap agar ia menyukainya. Hari-hari berlalu, tiada satu hari pun yang kami lewatkan tanpa chatting di BBM. Mungkin saja ia merasa jika aku lebih sering mengganggunya dengan semua pesan-pesan singkat itu. Mungkin saja ia muak. Tapi aku tahu, apa yang membuatnya lebih muak. "Aku jatuh hati padanya.". 
Beberapa minggu lalu ia juga berkunjung ke rumah. Aku sangat senang waktu itu, aku tak ingin waktu itu cepat berlalu. Tetapi apa daya ini tak mampu. Sudah 2 minggu ini kami tak saling bercakap secara langsung. Hal itu terjadi karena libur sekolah selama kakak-kakak kelas 12 UN. Dan hari-hari dimana pengurus OSIS sedang sibuk karena ada project besar yang akan dilaksanakan pada Hari Kartini mendatang. Alhasil kami tak memiliki waktu untuk sekedar latihan musik. Tak melihatnya selama sepuluh hari membuatku sangat merindukan dirinya. Dan hingga saat ini aku masih menyimpan sejuta rasa untuknya. Yang entah kapan akan kusampaikan padanya. Atau justru takkan pernah kusampaikan? Aku tak sanggup untuk melepasnya pergi begitu saja. Ia datang secara tidak terduga. Jangan sampai ia pergi begitu saja tanpa alasan. Aku harap ia akan mencoba untuk menetap seperti diriku disini yang sudah belajar untuk menerimanya apa adanya.
Jika tidak sengaja ia membaca tulisan ini, aku harap ia akan mengerti apa yang telah aku rasakan selama ini. Menunggunya selama empat bulan untuk memberikan pertanyaan itu lagi padaku tidaklah singkat. Dan semoga ia tak hanya memberikan harapan-harapan palsu yang bisa dengan mudahnya terbang terbawa hembusan sang bayu. Bagiku ia adalah bintang yang bersinar terang dalam hatiku, meski ia terlihat samar dan redup. Karena aku percaya bahwa suatu ketika bintang itu akan bersinar paling terang, dan dapat mengalahkan segala aral-rintangan di sekitarnya. Tulisan ini aku persembahkan untuknya, aku akan selalu disini untuk menunggumu bersinar terang. Semoga kau mengerti. Without you realize, I'm still here waiting for you, dear..
Terima kasih ku ucapkan dari lubuk hatiku yang terdalam.
.
.
.
Mungkin ini adalah secuil puisi yang dapat aku persembahkan, puisi ini memang sudah lama singgah dalam folder harianku. Tetapi, aku yakin puisi inilah yang bisa mewakili semuanya. Semoga kau menyukainya..

HARAP
Oleh Ferly Arvidia

Aku hanya mencintaimu dalam diam
Dalam hati, tak pernah tersampaikan
Mungkin takkan pernah tersampaikan
Laksana hujan merindukan kemarau

Aku hanya mencintaimu dalam diam
Dalam hati, tak pernah terbalaskan
Mungkin takkan pernah terbalaskan
Bagaikan siang merindukan malam

Aku tersadar...
Aku hanyalah seonggok daging tak berarti
Mungkin sangat tak berarti di hadapanmu
Namun, dengan ini aku berharap
Kelak kau akan tersadar suatu saat nanti
Bahwa, aku hanya mencintaimu dalam diam...



Thursday, January 28, 2016

Perbedaan Cewek dan Cowok di 2016

Thursday, January 28, 2016 0 Comments
Hi Guys!
Gimana nih kabarnya? Kali ini saya bakal posting tentang hal yang terbaru, perbedaan cewek dan cowok di tahun 2016. Ya, semua berawal dari perdebatan saya dengan seseorang tentang perbedaan cewek dan cowok, dari sanalah saya berniat membagikan infonya pada kalian.
Sebelumnya, kalian pasti pernah mendengar ungkapan ini, “Men are from Mars, Women are from Venus.”





Yup, benar sekali. Cewek dan cowok merupakan makhluk yang sangat berbeda. Perbedaannya tak hanya dari segi fisik, tetapi bisa dilihat juga dari cara pemikirannya, sifatnya, kebiasaannya, dan hampir semua yang mereka miliki sangat bertolak belakang. Perbedaan mereka begitu aneh bin ajaib, konyol, dan benar adanya. Tetapi, karena perbedaan itulah mereka bisa bersatu untuk saling melengkapi. Cielah..
Daripada penasaran, yuk kita lihat apa saja sih perbedaannya? Oh ya, aku ingatkan terlebih dahulu. Jangan sampe senyum-senyum sendiri loh, ntar dikira orgil (orang gila) lagi. Ups!

1. Cewek yang Gak Peka atau Cowok yang Gak Peka?

Sering kali cowok bilang cewek gak peka, dan juga sering kali cewek bilang kalo cowok tuh gak peka. Tapi, mana nih yang benar? Cewek atau cowok yang gak peka. Mari kita uraikan.
Sebelum masuk ke kata "Peka", biasanya sering kita dengar kata "Kode". Mungkin kalian banyak berpikiran jika cewek itu sukanya ngode(?) Jujur saja lah, gak papa kok. Sebenarnya itu bukan kode, itu hanya suatu hal yang mungkin sengaja dilakukan cewek untuk mengetahui si cowok peka atau tidak. Jangan disamakan dengan Pramuka yang penuh dengan kode dan sandi yang harus kalian pecahkan hingga menemukan jawabannya. Ribet kan, ya?/ Lalu, jika kaum Adam berkata bahwa kaum Hawa tidak peka itu juga kurang tepat. Kenapa? Karena sebenarnya cewek itu peka, bahkan sangat peka. Mereka punya intuisi atau feeling yang kuat. Hanya saja, mereka tidak ingin mengungkapkannya secara langsung. Mereka akan selalu menunggu kaum Adam untuk mengungkapkannya duluan, karena mereka ingin mengetahui siapakah yang benar-benar memprioritaskannya. Lantas, siapakah yang sebenarnya "Gak Peka", cewek atau cowok? Kalian pasti bisa menyimpulkan sendiri. :)

2. Cewek, Jangan Suka Bohongin Diri Sendiri yak!


Perbedaan kedua, cewek lebih suka bohongin dirinya sendiri. Tetapi, kenapa cowok masih tega bohongin ceweknya? Kan ya sakit.
Cewek kalo udah sayang dan nyaman pasti bakal susah move on-nya, bahkan mereka acap kali mendustai dirinya sendiri demi menjaga perasaan si cowok. Tetapi, tak jarang cowok yang memermainkan perasaannya. Cewek strong kok, Guys! Tenang aja.

3. Persahabatan Cewek dan Cowok



Setelah perbedaan dalam hal perasaan, terdapat juga perbedaan dalam persahabatan mereka loh. Cewek lebih suka memanggil sahabatnya dengan panggilan layaknya "Beb, Say, Sis, atau yang lainnya". Mereka suka berbasa-basi dengan mengutarakan ini itu. Tapi nyatanya, tak semua persahabatan mereka berjalan mulus. Sering kali mereka saling menusuk dari belakang. Wah, sakit tuh! Tapi ingat, gak semuanya kok. Masih ada yang baik, jadi tenang...
Sedangkan persahabatan cowok, mereka biasa saja. Lebih suka memanggil sahabatnya dengan panggilan yang blak-blakan dan kasar. Tapi jangan ditanya, persahabatan mereka begitu indah. Mereka tak terlalu memikirkan masalah-masalah sepele. Bayangkan saja jika cewek yang kena masalah sepele, pasti udah jadi masalah besar tuh. Belum lagi perdebatannya, wawasan cewek sangat luas. So, mereka sering kali menang jika berdebat dengan cowok. Karena, cowok kurang pintar dalam mengutarakan pendapat dan isi pikirannya.

4. Cowok memiliki selera humor tinggi, benarkah?


Cowok memang memiliki selera humor yang tinggi, mereka suka menghina temannya sendiri hanya sebagai lelucon. Berbeda dengan cewek, mereka sangat sensitif dan lebih berhati-hati, mereka memilih untuk tidak menyinggung perasaan temannya. Tapi buruknya, cewek lebih suka membicarakan temannya di belakang. Luarnya manis, dalamnya busuk. Sering kali seperti itu, tapi ingat. Gak semuanya kok! ;)

5. TERSERAH



Cewek kalo ditanya pasti sering menjawab "Terserah.". Kenapa ya?
Sedangkan cowok, ditanyain apa pasti jawabnya langsung straight to the point. Beda jauh sama cewek.
Nah, lantas apa alasan mengapa cewek selalu mengucapkan "Terserah."? Alasannya, karena mereka tidak ingin merepotkan si penanya. Intinya bertujuan agar si penanya tidak perlu merogoh kocek terlalu besar, jadi cewek selalu menjawab terserah.
Misalnya jika ditanya "Eh, mau makan dimana nih?", jawabannya pasti "Terserah."
"Eh, mau makan apa nih?" "Terserah."
"Eh, mau kemana nih?" "Terserah"
Dan begitu seterusnya...


Jadi... Intinya bagi kaum Adam harus lebih "PEKA". Oh ya, satu lagi amanat yang dapat kita ambil dari sini adalah bagi cewek maupun cowok jangan pernah menyia-nyiakan "dia" yang sedang ada dalam hidupmu, karena suatu saat kau akan menyesal jika "dia" sudah meninggalkanmu selamanya. Jagalah dia yang menyayangimu, jangan disia-siakan. Karena mencari seseorang yang benar-benar sayang sama kalian di 2016 ini susah, vroh. Ingat itu! xD
Wkwk, maafkan jika artikel ini berpihak pada cewek. Karena saya melihat dari sudut pandang cewek. Dan, jika terdapat ketidakbenaran, kesalahan, dan semacamnya dalam penulisan saya mohon maaf sebesar-besarnya. Anggap saja sebagai lelucon
belaka. At the last of the words, I just wanna say thanks a lot.
Love yaa❤️
[Dikutip dari berbagai sumber]

Tuesday, November 17, 2015

Kehilangan

Tuesday, November 17, 2015 0 Comments
Dear diary,
Baru kali ini gue ngerasa bener-bener kehilangan. Kehilangan seseorang yang mungkin ga berarti bagi hidup gue, tapi gue rasa dia cukup berarti bagi gue hingga gue sangat ngerasa kehilangan dia. Sebenernya bebas aja sih dia keluar masuk kehidupan orang tanpa permisi, bahkan ucapan hello maupun goodbye. Dan gue, gue siapa? Gue ga berhak maksa dia untuk tinggal di kehidupanku. Tetapi, apakah dia sadar jika dia telah mencetak banyak kenangan dalam hidup gue. Dia udah membuat semua itu membekas dalam hidupku. Dan sekarang, dia pergi begitu saja?
Ah! Aku tak habis pikir. Mengapa ini semua terjadi padaku? Aku ingin meralat perkataanku tempo hari, bahwa ditinggal seseorang lalu melupakannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Aku tak seharusnya mengatakan itu, apa mungkin ini karma bagiku?
Aku sadar, semakin jauh seseorang itu pergi, semakin sering pula seseorang itu ada dalam pikiranku. Aku tak bisa, aku tak bisa melupakannya begitu saja. Aku tak bisa melewatkannya.
Jika memang dia bukan yang terbaik bagiku, let me forget him! Tapi, jika aku layak untuk mendapatkannya, let him come back to me. Please God..
Sometimes I feel so tired of waiting, but is there a chance for a person who never stop to waiting and dreaming?/
I hope everything I dream become true..
Love ya, xx

Monday, November 2, 2015

Putih Abu-abu, What is That?

Monday, November 02, 2015 0 Comments
SMA. Siapa yang ga tau masa SMA? Pasti semua orang di Indonesia tau, mungkin di antara kalian sudah pernah melewati masa ini, sedang menjalani, atau akan menjalani masa putih abu-abu ini. Masa peralihan menuju kedewasaan. Dimana kalian mulai mengenal teman yang benar-benar tulus juga teman yang cuma bisa ngomong di belakang. Masa dimana kalian bisa mengenal guru seakrab temen sendiri, dan mengemal guru sebagaimana ia adalah mimpi burukmu. Masa dimana kalian mengenal yang namanya gebetan / sepikan yang lo anggap sebagai penyemangat. Tapi gue sadar, sepikan cuma manis di bibir doang. Dan kalian harus hati-hati dengan sepikan macam ini. Jangan sampe elo down cuma gegara di PHP in! Meski doi menghilang, seiring berjalannya waktu Allah pasti bakal ngasih lo yang baru. Percaya deh. Masa putih abu-abu, masa dimana lo harus nyari guru kesana kemari untuk mendapatkan nilai, dan lo juga harus akrab sama guru tersebut kalo lo pengin dapet nilai plus tentunya. Sepik aja tuh guru, asyik-asyik aja kok ngecengin guru itu. Di masa ini juga, lo bakal ketemu sama manusia-manusia aneh bin ajaib yang berlagak bodoh, toidi, dan konyol. Mereka yang selalu bikin lo ketawa setiap hari di kala tugas-tugas bikin lo tertekan. So, jangan sampe pernah nyia-nyiain mereka. Dan di masa inilah, semua kerasnya hidup di mulai. Lo bakal menemukan hal-hal baru yangmenyenangkan atau justru nyakitin lo sendiri. Di masa ini, lo harus pandai-pandainya memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Jalani aja se-enjoy mungkin. Lo bisa nyalurin hobi sekedar untuk refreshing, tapi juga jangan melupakan tugas utama lo sebagai pelajar yang memiliki masa depan cerah. Tetap semangat belajar, dan semoga semua yang kita inginkan dapat terkabukan. Amiinn.. O:)
Mungkin ini sedikit ulasan tentang indahnya masa SMA. Sebagian orang gagal karena masa mudanya, so gunakan masa emas ini sebaik mungkin sampe elo berhasil dan ngga gagal.
SMA itu masa emas yang terlalu indah untuk dilewatkan.
Sekian, and love yaa~! xx
Ferly AA,

Wednesday, July 29, 2015

MOS Telah Berakhir !!

Wednesday, July 29, 2015 0 Comments
Dear readers,
Ciao!! Hari ini gw exited banget, hari ini hari terakhir Masa Orientasi Siswa. Yap, Putih Abu-abu t'lah datang menjemputku!! Selama tiga hari ini, banyak banget hal yang berkesan. Mulai dari papan nama yang disobek-sobek, dibentak, sampek nembak kakak senior kelas 12. Coba bayangkan?/ 
Menurutku sih, hari yang paling seru ya hari ini. Karena pada hari ini kakak-kakak senior bersikap cukup ramah pada kami siswa-siswa baru. Yah, meskipun hari ini juga bikin gw kesel. Setidaknya enjoy & fun lah!
Jadi ceritanya gini, tadi pagi waktu istirahat kan waktunya minta tanda tangan ke kakak senior, terutama yang pengurus inti. Waktu itu gw lihat kakak-kakak pengurus inti lagi nongkrong di salah satu sudut sekolah. Gw ngajakin temen-temen gw sekelas buat minta tanda tangan ke mereka. Tapi, temen-temen pada gak mau cuma karena malu + takut sama kakak senior. Ya, mau gimana lagi coba? Habis itu ada kakak senior kelas 11 lewat, "Kenapa gak minta tanda tangan langsung aja, Dek? Masa gak berani? Mereka gak gigit kok. Ah, ada Ferly. Ferly pasti berani, udah Dek sanaa.."
Akhirnya gw pun menghampiri kakak-kakak senior kelas 12 yang wajahnya cakep-cakep itu, parahnya gw di depan sendiri. Temen gw yang nemenin cuma dua anak di belakang lagi, mereka sungguh tega padaku. :"
Akhirnyaa.. Gw pun bersuara, "Permisi Kakak, kami mau minta tanda tangan."
"Tanda tangannya siapa, Dek?"
"Tanda tangannya Kakak Ketua Umum." Ya, itu tujuan utamanya. Minta tanda tangan sama kakak ketua. Gak sadar, ternyata di belakang gw udah banyak anak-anak kelas 10 berkumpul, hampir semuanya lah. Mereka cuma ikutan, lah gw di depan sendiri yang bicara sama kakak senior. Kan ya sakett, jlebb T-T
"Ketua umumnya namanya siapa, Dek?"
"Kak Asdfghjkl, Kak."
"Yang mana orangnya?"
"Itu Kak." 
"Eitss.. Enak banget cuma minta tanda tangan. Ada syaratnya, Dek!"
"Syaratnya apa, Kak?"
"Salah satu atau dua orang di antara kalian harus nembak salah satu kakak yang ada disini. Nanti kalian semua baru bisa dapet tanda tangan kami." Lalu, tiba-tiba kakak yang lain nambahin, "Jangan Kak, terlalu gampang. Gini aja, untuk 5 orang pertama yang berani nembak bisa dapet tanda tangan kita. Lengkap. Gimana, setuju gak?!"
"Tapi, Kak.."
"Itu konsekuensinya, Dek. Kalo kamu mau ya silakan. Enak lho Dek, dapet tanda tangan lengkap.. Ayo, udah. Waktunya mepet lho, cepetan! Siapa yang mau kamu tembak?"
"Okelah, s..ssaaya mau nembak kakak Qwertyuiop." Duh, ini terpaksa. Soalnya tugas surat cintanya gw tujukan sama kakak itu, alhasil ya gw milih kakak itu deh.-.
"Oke, gandeng kakaknya ke tengah sana Dek! Biar semuanya bisa lihat." Sungkan banget gw waktu udah kek gini, tapi ya mau gimana lagi. Demi tanda tangan. Berjuanglah sedikit, meskipun sebenernya gw malu minta ampun.. Akhinya, gw gandeng kakak itu deh ke tengah.
"Pemisi ya, Kak. Maaf.." gw ngomongnya sambil nunduk pasang muka melas, dan kakaknya cuma seyum aja. Dan eng ing eng... Udah di hadapan ratusan siswa, gw di tengah sama kakak itu jadi pusat perhatian, sampe difoto-foto juga sama kakak-kakak dokumentasi. Gw waktu itu cuma diem aja, gw gak tau apa yang harus gw lakuin. Wajah gw makin merah dan udah deg deg-an, gw kan masi polos soalnya :))

*soundtrack on*
This ain't a movie that I wanna see
A tragic story, starring you and me
Yell "cut", we're stuck inside this scene
This is heartache on the big screen
The clock is ticking, and I'm out of time
The camera's rolling, and I forgot my lines
My script is ripped and now I see
This is heartache on the big screen
(5 Seconds of Summer - Heartache On The Big Screen)

Akhirnya, terlintas dalam pikiran tentang kata-kata di surat yang gw tulis. Gw pun bicara sama kakak dengan kata-kata yang ada di surat. Bicara sambil ngeja + gagap-gagap dikit. Kliatan toidi banget gw waktu itu, geblek! Intinya ini yang gw katakan, "Saya tahu, saya hanya junior kelas 10 yang mungkin tak berarti di mata kakak. Tetapi, saya hanya ingin kakak tahu bahwa saya bukan jatuh cinta, saya jatuh hati. Saya tahu, saya tak pantas tuk memiliki kakak. Namun, bolehkah saya untuk selalu berada di dekat kakak?"
Dan kakaknya jawab, "Kalau memang itu yang terbaik bagimu, mengapa tidak?" Ucapannya halus, masih terngiang di pikiranku sampe sekarang, duh. Senyumannya juga tulus. Hanya saja satu hal yang bikin gw down. Yaitu kakak itu tingginya setiang listrik /ya maklum lah, anak paskib, Co. Sie KBB lagi. Gak kaget/ Tapi, masalahnya gw itu pendek, cuma 155 cm, dan gw cuma sepundaknya atau bahkan leih pendek dari itu. Jadi, ya nggak pantes banget. Serasa kakak sama adek jadinya. 
And then.. Gw dapet tanda tangan kakak-kakak senior pengurus inti, lengkap. Yeayy!! Perjuangan gak sia-sia.
Habis itu, kami kelas 10 menuju aula untuk penyuluhan kesehatan. Sebenarnya waktu itu jadwalnya adalah PBB, tapi pelatihnya berhalangan hadir. Alhasil, kami mengikuti penyuluhan. Setelah itu, kami mengikuti outbond bersama kakak-kakak Pramuka. Seru sih, ngangkat-ngangkat temen pake tongkat bambu gitu. Sama persis kek waktu outbond English Day sama JFF di Alun-alun April lalu. Setelah itu, kami makan siang dan shalat. Masih seperti biasa, makan siang dengan cara duduk tegap dan sopan, table manner gitu. Untungnya hari ini gak ada keamanan, setelah shalat langsung dilanjutkan apel penutupan, dan... PENSI!! Yeayy!!
Seneng banget gw, secara kan udah resmi jadi anak Putih Abu-abu. Terus Pensi, gw tampil nyanyi + baca puisi. Tapi, ya gitu. Amburadul..! Tapi, tak apalah. Meskipun, X-4 gak menang, yang penting kan happy! Hitz Four tetap yang terbaik! Dan, gak terasa besok udah pengumuman penjurusan. Bakal berpisah sama temen-temen Hitz Four nih, huhu :" Semoga aja gw masuk kelas MIA. Amiinn ya rabb..
Sebelum berakhir tulisan gw ini, yuk yel-yel dulu yaa!! Pake nada lagu "Love Me Like You Do"

Oh hitz four, is the best
We are one and the best four
Terkompak, terlucu, ter-perfect di SMA 2
Kita semua bersenang-senang. Senang..
Hitz four is the best, hitz for is the perfectly
Hitz four is the best, hitz for is the perfectly
Hitz four is the best, hitz for is the perfectly
Smada pasti jaya!

Sekian, dan terima kasih!!

Siapa kalian?!
Kami siswa Smada calon pemimpin bangsa!!

Friday, July 3, 2015

Happy 12th Birthday GagasMedia!

Friday, July 03, 2015 1 Comments
Okay, previously let me introduce myself. Hello, I'm Ferly Arvidia Anindita. A senior high school student at Bojonegoro, Jawa Timur. I'm just a little girl who loves reading, music, and writing so much! And I am participating GagasMedia 12th birthday. Happy 12th birthday GagasMedia!! #TerusBergegas




Dalam rangka memperingati ulang tahun GagasMedia yang ke-12, GagasMedia berbagi kado untuk para blogger, dengan cara menjawab dua belas pertanyaan dari GagasMedia. Beberapa menit lalu, aku menemukan status GagasMedia tentang "Kado Untuk Blogger", dan aku langsung tertarik untuk mengikutinya. Okay, wish me luck! 😇
And here are my answers!!

Questions :
  1.         Sebutkan 12 Judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!
  2.         Buku apa yang pernah membuat kamu menangis, kenapa?
  3.         Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasi?
  4.         Siapakah tokoh dalam buku yang ingin kamu pacari? Hayo, berikan alasan kenapa kamu cocok menjadi pasangannya.
  5.         Ceritakan ending novel yang berkesan dan tak kamu lupakan!
  6.         Buku pertama GagasMedia yang kamu baca dan kenapa kamu memilih itu?
  7.         Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik, kenapa?
  8.         Sekarang lihat rak bukumu.. cover buku apa yang kamu suka, kenapa?
  9.         Tema cerita apa yang kamu sukai, kenapa?
  10.         Siapa penulis yang ingin kamu temui, kalau sudah bertemu, kamu mau apa?
  11.         Lebih suka baca e-book atau buku cetak?
  12.         Sebutkan 12 kata untuk GagasMedia menurutmu!


Answers :
  1. 12 buku yang paling berkesan setelah aku baca, ini urutannya :
1.      Happily Ever After by Winna Efendi
2.      Let Go by Windhi Puspitadewi
3.      Refrain by Winna Efendi
4.      7 Misi Rahasia Sophie by Aditya Yudis
5.      8.. 9.. 10.. Udah Belom?! by Laurentia Dermawan
6.      Pura-Pura Cinta by Kezia Nadira
7.      Dance For Two by Tyas Effendi
8.      Cotton Candy Love by Priscila Stevanni
9.      Kynigos by Yoana Dianika
10.  Perahu Kertas by Dee
11.  In A Blue Moon by Ilana Tan
12.  Cinta Brontosaurus by Raditya Dika
2.      Buku yang pernah membuatku menangis adalah “7 Misi Rahasia Sophie”. Jujur aja sih, setiap novel yang pemerannya ada yang meninggal di ending-nya, pasti aku nangis. Tapi, novel “7 Misi Rahasia Sophie” bener-bener bikin aku nangis karena pemeran utamanya, Sophie meninggal, dan yang bikin aku sedih lagi ternyata semua misi rahasia Sophie itu untuk mengubah sifat-sifat Marko yang jelek. Sophie sangat peduli dengan sahabatnya itu, tapi tak disangka Sophie malah meninggal karena penyakit berbahaya yang menggerogotinya. Apalagi waktu novel ini difilm-kan, waktu nonton film-nya malah gak berhenti nangis. :”
3.      Quote yang paling aku ingat, dan sangat menginspirasi adalah quote dari novel Happily Ever After. Ini quote-nya :
Nggak semua cerita punya akhir yang bahagia. Begitu pula hidup. Bahkan, sering kali hidup punya kejutan tersendiri.” –Winna Efendi, Happily Ever After
Hidup adalah sebuah hak yang istimewa. Karenanya, kita perlu melakukan kewajiban kita untuk menjalaninya sebaik mungkin.”  –Winna Efendi, Happily Ever After
4.      Tokoh yang ingin aku pacari? Ehm, menurutku tokoh Marko di novel 7 Misi Rahasia Sophie. Meskipun Marko terlihat cuek, dan menyebalkan. Tapi, sebenarnya Marko sayang, dan peduli sama Sophie. Buktinya Marko mau nganterin, dan nurutin hampir semua permintaan Sophie. Marko sebenarnya juga menaruh hati pada Sophie, meskipun Sophie tak akan pernah tahu, cinta Marko ke Sophie sangat tulus. Selain itu, Marko adalah tipe cowok yang humoris. Yang jelas tokoh Marko adalah sosok yang bisa membuatku terpesona, dan terkagum-kagum. Hehee xD.
5.      Ending novel yang paling berkesan dan gak bakal aku lupakan adalah ending dari novel Refrain. Bertahun-tahun Niki berpisah dengan Nata, karena Nata harus melanjutkan sekolah musiknya di luar negeri. Hingga Niki sudah menjadi seorang guru di sekolah dasar. Tak disangka, mereka dipertemukan kembali dengan perasaan yang sama. Perasaan yang mereka kembangkan sejak mereka seumur jagung.
6.       Jujur aja sih, aku mulai baca novel itu baru tahun 2012-an. Jadi, belum banyak novel yang pernah kubaca. Nah, novel GagasMedia yang pertama kali aku baca itu novel Refrain dari Kak Winna. Kenapa memilih itu? Pertama kali waktu beli buku, pasti yang aku lihat adalah covernya. Begitu lihat cover Refrain yang gambarnya amplop biru gitu udah tertarik. Karena covernya simple banget, dan aku suka simple. Kedua, aku baca sinopsisnya, dan aku juga langsung tertarik waktu baca sinopsisnya. Perfect banget, akhirnya langsung beli deh.
7.      Judul buku yang paling menarik dari semua buku yang aku beli adalah judul “Happily Ever After”. Kenapa? Karena “Happily Ever After” adalah kalimat yang biasa diucapkan di akhir dongeng-dongeng bahasa inggris, berhubung aku pecinta dongeng akhirnya ya langsung tertarik gitu. Waktu mau beli, juga sempat debat sama temen perkara judulnya yang inilah yang itulah. Yang katanya mirip judul lagu juga, entahlah.
8.      Cover yang paling menarik, menurutku cover novel “Happily Ever After”. Lagi-lagi novel ini, kenapa? Ya, karena aku rasa semua novel karangan Kak Winna Efendi itu perfect banget. Cover dari novel “Happily Ever After” itu simple banget, dan bikin orang yang lihat itu penasaran. Menurutku, cover novel yang bagus itu yang ada ilustrasi bergambarnya.
9.      Tema yang paling aku suka itu adalah literature, jadi cerita yang mungkin terjadi pada kehidupan nyata, dan dibumbui dengan sedikit percintaan, sahabat, atau lainnya. Cerita seperti itu bisa membawa kita untuk membayangkan apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan sang tokoh. Lalu, kita juga bisa mendapat pengalaman baru dari kehidupan sang tokoh.
10.  Penulis yang paling ingin aku temui adalah Kak Winna Efendi sama Bang Raditya Dika. Aku terinspirasi dari kata-kata Kak Winna yang sangat menyentuh pembacanya, juga sangat mudah diserap. Seakan-akan tulisan Kak Winna bisa menghipnotis pembacanya. Dan, aku juga ingin belajar bagaimana cara menulis kalimat-kalimat seperti itu. Lalu, mengapa aku ingin bertemu Bang Radit? Karena aku suka banget sama kalimat-kalimatnya yang begitu humoris, obat galau banget pokoknya. Lalu, pengalaman-pengalaman lucunya yang dishare di twitter juga kocak banget, apalagi video-videonya yang di youtube. Yang jelas Bang Radit itu bikin perut jadi kaku karena kebanyakan ketawa, hehee.
11.  Kalau aku sih lebih ke buku cetak ya. Buku cetak itu lebih mudah dipahami isi tulisannya, karena bisa diberi garis kalau ada yang kurang paham. Benr sih kalau e-book itu menghemat kertas, tapi kalau kelamaan baca di depan layar itu bisa membuat mata jadi kering, merah, terus berair. Daripada merusak mata, mending baca di buku meskipun buku itu lebih berat dari gadget. But, e-book is good too.
12.  Semakin jaya, dan sukses selalu dalam menerbitkan karya-karya penulis profesional Indonesia!
Terima kasih untuk GagasMedia yang telah mengadakan event ini, and I hope I’ll be lucky for get the special gifts from GagasMedia. Amiinn.. Thanks a lot GagasMedia!! 😊